oleh

Adib Zain: Demokrasi Tanpa Basis Moral, Akal Sehat dan Akar Massa

Oleh : Adib Zain, Rakyat Indonesia

Detikfakta.id, – Saudaraku sebangsa dan setanah air, bagi yang beragama Islam, dipenghujung Ramadhan kali ini, saya menyampaikan permohonan maaf jika ada salah khilaf selama kita berinteraksi dalam dunia maya maupun dalam kehidupan nyata.

Selamat menyongosng hari kemenangan yang sejati setelah hampir sebulan menjalankan ibadah puasa dan ibadah lainnya di bulan Ramadhan. Hari itu, disebut sebagai ‘Aidul Fitri’, dimana kaum muslimin merayakan kembalinya kemuliaan dan fitrah manusia sebagaimana masa awal kelahiran anak manusia di muka bumi, bersih ‘tabula rasa’.

Saudaraku, seorang muslim akan menjadi totalitas ( kaffah ) dalam berbagai dimensi kehidupan, jika masalah ekonomi, sosial, budaya dan politik tidak terabaikan. Bidang politik, khususnya terkait bab tentang melilih pemimpin, hendaknya merujuk pada suatu proses yang disebut ‘musyawarah’ antar para perwakilan dari kelompok pemilih, masyarakat atau jemaah/organisasi.

Baca Juga :  Islam, Umat Islam dan Politik Indonesia, Bagian Pertama

Proses pemilihan pemimpin tanpa permusyawaratan para perwakilan kelompok, akan menghasilkan pemimpin tanpa basis moral, akal sehat dan akar massa, apalagi memilih pemimpin hanya karena issue yang dilansir oleh media massa yang dihela kepentingan pemilik/pengelolanya atau media sosial yang penuh hoax serta diberi uang/bantuan kecil atau money politic, tentu saja menjadi suara ‘haram’.

Suara rakyat yang suci, atau istilah pox populi pox dei, suara rakyat suara Tuhan adalah benar, dengan syarat ketika yang memilih itu telah mengetahui tentang karakter, prilaku, rekam jejak dan kinerja seorang calon pemimpin, maka dia dapat menggunakan hak pilihnya secara mandiri, karena cukup cerdas dan beintegritas.

Namun, jika yang bersangkutan masih lemah pengetahuannya, hendaklah dia mendengar hasil permusyuawaratan para perwakilan/pemimpin mereka atau bertanya kepada cerdik-pandai. Bukan membaca hasil survey pesanan, menunggu siapa yang memberi uang/sembako apalagi menunggu ‘wangsit’.

Baca Juga :  Pemimpin Ambisius Selalu Kobarkan Perang : “Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake, Sekti Tanpo Aji-Aji”

Tahun ini, 171 Daerah akan melaksanakan Pilkada Gubernur, Bupati/Walikota secara serentak pada hari Rabu, 27 Juni 2018. Maka, perlu dilakukan permusyawaratan para pemilih, bisa dilakukan ditingkat RT, RW, perkumpulan, organisasi/jemaah dan berbagai kelompok yang memilki pemilih dalam Pilkada mendatang, agar terdapat tambahan pengetahuan dan pandangan yang benar terhadap sosok calon kepala daerah yang akan dipilih.

Membiarkan orang yang lemah, bodoh, buta politik dan kurang informasi memasuki bilik suara tanpa suatu pengetahuan tentang calon yang akan dipilihnya, maka demokrasi seperti ini tidak memiliki nilai ‘mandat dan keabsahan’ sesuai dengan sila ke-4 dari Pancasila kita, yaitu : Kedaulatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

Baca Juga :  Bubarkan KOMPOLNAS, POLRI Sedang Praktekan Dwi Fungsi ABRI Jilid 2

Gunakanlah waktu beberapa hari diakhir Ramadahan, awal bulan Syawal dan libur panjang ini untuk membangun kesepahaman, bahwa yang terbaik lah yang harus dipilih. Jika setelah dilakukan musyawarah pemilih masih terdapat perbedaan, selanjutnya sesuai dengan bunyi Al Qur’an, surat Ali Imran 159 : ” … bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah…”

Demikian sebagai renungan dan langkah yang perlu dilakukan menghadapi Pilkda mendatang, sehingga demokrasi memilki basis moral, akal sehat dan akar massa.

Bandung, 11 Juni 2018

Loading...

Baca Juga