oleh

Catatan Kritis Sri Edi Swasono: Pancasila dan Ketahanan Nasional

Dari: Sri Edi Swasono

Detikfakta.id, – Pancasila sedang diutak-utik lagi. Ada “badan” baru didirikan. Isinya tokoh2 yang akan menjelaskan dan mereinterpretasi sila2 Pancasila. Buku2 telah banyak diterbitkan oleh tokoh2 ilmuwan besar dan para ideolog, lagi2 mengenai apa arti sila2 itu, saya jakin, juga bagaimana mengimplementasikannya.

Seminar dan Kongres2 Pancasila sudah bertalu-talu diadakan dan sudah sampai pada kejenuhan tentang apa arti dan interpretasi yang tepat tentang sila2 Pancasila dan musti diapain Pancasila itu.
Di jaman Presiden Soeharto juga telah dibentuk suatu “badan” nasional (BP7) dan dilaksanakan Penataran P4 secara masif untuk membentukkan “budaya” Pancasila.

Sayang era Reformasi justru menghapuskan Penataran P4 (bahkan BP7 dibubarkan), dan hilangnya Pancasila dari kurikulum pendidikan jutru oleh Menteri Pendidikan pertama era Reformasi, seorang menteri/akademisi yang diperkirakan berhaluan liberal. Seterusnya malahan *Reformasi menjadi Deformasi* hingga sekarang.

Baca Juga :  Usamah Hisyam, Kisah Para Penunggang Bebas dan Petualang Politik

Barangkali terlambat merasakan deformasi itu, lagi2 saat ini dibentuklah satu badan baru untuk pembinaan Pancasila lagi, setelah satu generasi anak bangsa sempat terlajur menjadi _éla-élo, bingung, ora ngalor ora ngidul_ tak berideologi, dan lunturlah keindonesiaan generasi muda milenial kita.

Lebih dari itu muncul pula menteri2 muda di kabinet yang barusan lewat, yang mengatakan dengan enteng: “apa itu nasionalisme, kuno itu, masukin aja ke dalam saku”. Ada pula menteri lain yang bilang berkali-kali kepada deputi2nya: “nggak usah ideologi-ideologian, _best practices_ sajalah”.

Seharusnya jika memang niat politiknya de-Soehartonisasi perlu dilakukan (karena _political fashion)_, maka Penataran P4 tidak seharusnya dihapuskan semena-mena, BP7 tidak ditutup semena-mena, tetapi substansi (kurikuler)-nya saja yang “disempurnakan”. Nah, sekarang badan baru dibentuk lagi dengan anggaran besar.

Sekalilagi, Pancasila itu apa, apa arti silanya masing2, sudah pol dan jenuh. Yang perlu diangkat sekarang adalah *”mengapa Indonesia perlu punya Pancasila”*. Jawabnya singkat: “Karena kita _bhinneka,_ kita pluralistik dan multikulturalistik, maka Pancasila diperlukan untuk mentransformasi _kebhinekaan_ menjadi _ketunggalikaan_. *Pancasila adalah “baju seragam” Indonesia*.
Di samping menjadi “asas tunggal” bagi negara, Pancasila adalah *”asas bersama”* bagi bangsa kita yang berbeda-beda ini (pluralistik-multikulturalistik).

Baca Juga :  Yudi Syamhudi Suyuti : Jika Anies Capres, Jokowi Akan Menang. Karena Faktor Jawanya. Mohon Koalisi Parpol Oposisi Konsisten Prabowo Capres

Di sini kita *bersatu*, dan dengan bersatu semacam ini, maka *ketahanan nasional* kita menjadi *solid*. Pancasila sebagai *”asas bersama”* mengubah divergensi _mindset_ menjadi konvergensi, merubah perselisihan dan pertentangan menjadi kerukunan dan kedamaian, mengubah eksklusivisme kelompok menjadi ko-eksistensi, merubah kekerasan kolektif menjadi toleransi dan solidaritas. Perlunya kita memiliki Pancasila dan berbudaya Pancasila harus melalui program kegiatan pendidikan terstruktur.

Bu Mega, (Yudy Latif), Pak Try Sutrisno dll dll anggota BPIP, harus bersikap tegas, terhadap lembaga2 pendidikan kita: statuta2 univerisitas/perguruan2 tinggi kita negeri dan swasta harus menegaskan komitmen nya pada Pancasila, menolak ideologi individualisme neoliberalisme, dan kapitalisme. Sekolah2 negeri dan swasta harus mengajarkan dan mempraktekkan Pancasila (kurikum perlu segera disusun), dosen danguru segera ditatar.

Baca Juga :  Hasil Itjima Ulama Untuk Memecah Belah

Anggota2 Parlemen kita dan pejabat2 eksekutif kita perl ditatar sehingga tidak ada lagi UU dan peraturan2 perundang-undangan apapunyang bertentangan dengan Pancasila, sehingga di bidang kehidupan sosial-ekonomi betul2 terselenggara keadilan sosial bagi seluru rakyat Indonesia. Lalu BPIP macam apa yang kita kehendaki?

Persatuan (rasa bersama) adalah inti ketahanan nasional kita, l’union fait la force. Dari itulah kita mampu bersama-sama menjaga Tanah Air, menjaga kemerdekaan dan kedaulatan kita (menjaga soverignty and territorial integrity) kita. Ingat kita sudah menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBP, Indonesia sendiri harus solid.
Merdeka!🇮🇩

Loading...

Baca Juga