oleh

Malika Dwi Ana : Kelompok Gusdurian di Pilpres “Catatan Kecil Pojok Warung Kopi Ndeso”

Oleh: Malika Dwi Ana
(Pengamat Sosial Politik — Penggiat Institute Study Agama dan Civil Society)

Kemarin viral soal Gusdurian mendukung Jokowi. Melalui corongnya Yeny Wahid (putri Gus Dur), sikap politiknya jatuh ke Jokowi dalam Pilpres 2019. YW (Yeny Wahid) bilang jujur mengatakan, “Bangsa Ini Sedang Susah. Semua tahu selama 4 (empat) tahun terakhir, bangsa ini dipimpin JKW.” Ngomong begini tapi dia gak berani nunjuk siapa yang bertanggung jawab atas kesusahan saat ini. Baru nyadar, setelah 4 (empat) tahun? Lalu mendukung kesusahan untuk 5 tahun kedepan? Logika sesatnya begitu. Mbuhlah…! Untungnya, Yenny Wahid mengumumkan pilihannya sekarang. Kalo mengumumkan seminggu sebelum pencoblosan bisa jadi game changer itu. Kalo sekarang sih, ya oke-oke saja.

Lantas, apa dan siapa Gusdurian itu?

Yang jelas, Gusdurian merupakan gerakan kultural yang netral dan tak berpihak. Gusdurian itu kumpulan pengikut, pengagum ataupun simpatisan Gusdur yang mengikatkan diri serta membentuk kelompok dalam kendali (dikelola) oleh keluarga Gusdur. Maksud didirikan Gusdurian ingin mempertahankan cara pandang dan pemikiran-pemikiran Gusdur agar terus berkembang di Indonesia. Dukungan Yenny Wahid masih bias dari sisi kekuatan suara, tak jelas berapa kekuatan riilnya. Pilkada Jakarta tempo hari bisa jadi bukti nyata bahwa kekuatan itu tak signifikan. Ditambah lagi, ada pernyataan dari mba Alissa Wahid bahwa Gusdurian itu netral, dan tidak berpolitik praktis.

Baca Juga :  Ketum Senyum Millenial PAS Yakin Sandiaga Uno Dapat Merebut Suara Millenial

Saya sebenarnya ngga update soal kiprah ataupun kontribusi Gusdurian terhadap masyarakat. Karena itu sependek pengetahuan saya, bahwa keberadaannya seperti kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau. Ketika kemarin sempat viral, itu karena sikap Gusdurian cq YW yang mendeklarasikan mendukung petahana dalam Pilpres meskipun deklarasi itu dibantah oleh Inayah Wahid (IW), adik YW, bahwa yang mendukung petahana itu bukan Gusdurian tetapi Barisan Kader Gusdur (Barikade Gusdur), sedangkan Gusdurian tetap netral dan tidak memihak, begitu katanya.

Tetapi, entah Barikade Gusdur atau Gusdurian, publik terlihat adem-adem saja meresponnya. Masyarakat hanya paham bahwa keduanya cuma berbeda wadah yang di dalamnya terdiri dari entitas pecinta, simpatisan dan pengikut pemikiran Gusdur.

Baca Juga :  KPN-GP 2019 Dukung Penuh Prabowo-Sandi dan Siap Menangkan di Pilpres 2019

Bagaimana melihat pemikiran Gusdur? Banyak referensi. Namun yang jelas, ia adalah sosok pluralis, demokrat sejati dan kyai. Ucapannya yang masih dikenang orang sampai saat ini adalah “gitu aja kok repot”. Atau idenya mengubah ucapan salam assalamualikum menjadi selamat pagi, siang, dan sebagainya.

Ketika masih duduk di Istana, Gusdur merupakan presiden yang ingin mencabut TAP MPR XXV/1966 soal larangan PKI dan ingin membuka hubungan diplomatik dengan Israel, dst. Konon pemikiran Gusdur ini menjadi cikal bakal Jaringan Islam Liberal (JIL). Itu pokok-pokok pikiran Gusdur yang hampir terealisir, tapi ditolak secara keras oleh berbagai kalangan. Gagal dan banyak lagi pemikiran Gusdur lainnya yang dianggap nyleneh.

Baca Juga :  Sekjen GPI Himbau Prabowo Minta Maaf Soal Salah Sebut Gelar Nabi

Pertanyaannya adalah, “Apakah pemikiran Gusdur di atas yang hendak dikembangkan oleh Gusdurian dan Barikade Gusdur?”

Wes, iki pertanyaan serius. jadi ndak perlu korslet darting, soalnya biasanya yang panasati itu bakalan kesrimpet, mbuh kesrimpet opo. Kesrimpet karena trus akrobat ngga nahanin… ekekekekek 😂😆

Kopi_kir sendirilah!

#kopitalisme #kopilosophi #kopipagi #Malawu_OmahKopi

Loading...

Baca Juga