oleh

Menyebar Isu Pembenaran Soal TKA dan Hutang Infrastruktur “Catatan Kecil Pojok Warung Kopi Ndeso”

Oleh: Malika Dwi Ana
(Pengamat Sosial Politik — Penggiat Institute Study Agama dan Civil Society)

Perayaan Hari Buruh (May Day) tempo hari sebenarnya untuk apa di Indonesia, jika pada realitasnya mereka mesti berebut lahan pekerjaan dengan pekerja asing?

Jujur, saya cukup sedih dan prihatin dengan “tuduhan” Pak Moeldoko yang mensinyalir bahwa “telah berkembang pemahaman sempit dalam agama di masyarakat serta cenderung mendahulukan kebencian karena takut berkompetisi akibat maraknya TKA dari Cina di Indonesia.”

Juga tuduhan kelompok liberalis tentang rasisme. Semua kritik terhadap pemerintah, kok ya sering dihadapkan vis a vis pada isu rasisme, kebinekaan dll, sungguh memuakkan.

Soal tuduhan beliau Pak yang konon mantan Jendral, beliau membandingkan dengan beberapa analogi kasus dalam bentuk retorika:

1) Cina menguasai surat utang Amerika USD 1,15 Trilium, apakah Amerika dicaplok Cina? Tidak.

2) Arab investasi di Cina 870 Triliun, apakah rakyat Cina merasa dijajah oleh Arab? Tidak.

3) Amerika investasi 122 Triliun ke Singapore, apakah warga Singapore jadi antek asing? Tidak.

Baca Juga :  Rezim Antitesa; Politik Kebencian Merobohkan Politik Kebangsaan

4) Sebanyak 252.000 TKI bekerja di Taiwan, apakah rakyat Taiwan merasa dijajah Indonesia? Tidak.

5) Jumlah TKI yang kerja di Cina sejumlah 81.000, di Hongkong 153.000, di Macau 16.000, apakah Cina, Hongkong dan Macau merasa dijajah Cina?

Pak Moel menyatakan bahwa warga negara dimana TKI bekerja bernalar benar karena bisa membedakan antara bisnis dengan kedaulatan. Lanjut ia menyatakan, bahwa Abad ke 21 tak lagu dipetakan oleh suku, ras dan agama. Masyarakat modern tak lagi mempermasalahkan perbedaan keyakinan. Mereka bersama-sama membangun peradaban. Itu kata beliau…

Mari sama-sama mencoba menalar, seperti kita ketahui, orang menjadi TKI karena faktor ekonomi akibat tidak adanya lapangan kerja di negri sendiri, akhirnya terpaksa menjadi TKI. TKI datang atas permintaan negara peminta, lha TKA? Mereka datang tak diundang. TKI ini mendatangkan devisa, tetapi TKA malah menggerus devisa, karena kita yang bayar mereka.

Juga bagaimana bisa berpikiran TKI mau menjajah wong keselamatan nya sendiri kerap di ujung tanduk; tidak jarang menerima siksaan, diperkosa bahkan dianiaya sampai sering ada yang meninggal… Lalu mikir mau menjajah? Logikanya dari mana? Duhh….

Baca Juga :  Kapolri Kunjungi Brigpol Dolfis Wambonggo, Korban Bentrok Oksibil Papua

Lagian, apakah Indonesia punya program One Belt One Road? Yang lintas negara, bahkan lintas benua seperti Cina yang meniscayakan pengerahan pekerja secara massal dan terkoodinir? Hayooo….

TKI kita di luar negri selain murni bisnis (motif ekonomi), tetapi juga sebenarnya menggerus martabat (kedaulatan) negara sendiri karena di satu sisi dianggap Pahlawan Devisa, namun di sisi lain, bangsa ini dicap sebagai “bangsa babu”, mengertilah!

Sebaliknya, membanjirnya TKA justru membahayakan kedaulatan negeri ini, karena sepertinya tidak terkontrol. Badan mereka tegap-tegap. Siapa berani menjamin jika mereka bukan tentara atau pasukan yang terlatih? Siapa?

Ya waspada itu wajib hukumnya bagi setiap negara. Ini kok naive banget kesannya… Ingat Strategi Kuda Troya dalam peperangan, yakni taktik memasukkan kekuatan militer di sebuah negara secara nirmiliter (gak pake kekuatan senjata ato perang) dengan berbagai kedok. Itu yang pertama..

Yang kedua, kedatangan TKA terutama Cina adalah syarat yang harus dipenuhi sebab utang kita kepada Cina wujudnya pembangunan infrastruktur dengan skema(investasi) Turnkey Project Management (TPM) dimana mulai dari uang, manajemen, materiil, tenaga ahli, dsb hingga tenaga kasar, kuli-kuli bangunan didatangkan dari Cina. Ya itu yang disebut “Utang Infrastruktur.”

Baca Juga :  Rapat Paripurna, Ketua DPRD Sidrap Mengawali Rapat Dengan Doakan Korban Gempa Sulteng

Jangan harap ada alih teknologi model TPM tsb, kita hanya bisa dapet kertas kontrak saja, lalu ndlongop…gigit jari.

Lapangan kerja bagi buruh pun jangan harap ada. Nihil! Tapi judulnya tetap utang, argo-nya jalan terus… Jadi sebenarnya yang pekok sebenarnya siapa sih?!

Apa ngga sebaiknya berkaca dari banyaknya kisah negeri-negeri di lintasan OBOR yang harus menyerahkan kedaulatannya sebab tak mampu bayar hutang ke Cina. Cina menerapkan strategi Debt Trap Scheme di Maladewa, Srilangka, Pakistan, Anggola, Zimbabwe, Djibouti, Turkistan Timur,Timor Leste dll…Akhirnya, wussss… Bablas hilang kedaulatannya.

Ahh sampai saat ini saya masih bertanya-tanya; sebenarnya Pak Moel ini bekas jendral atau jendral bekas yak?!

Kopi_kir sendirilah!

#kopitalisme
#kopilosophi
#Malawu_OmahKopi

Loading...

Baca Juga