oleh

Tanah, Pribumi dan Ketuhanan Yang Maha Esa

LeaderBoard_700x120

Tanah, Pribumi dan Ketuhanan Yang Maha Esa, catatan kecil pojok warung kopi ndeso. Oleh: Malika Dwi Ana, Pengamat Sosial Politik.

Ini sebab soal tanah. Semua tanah pada dasarnya diberikan oleh Tuhan kepada manusia, semua tanah dibumi ini sebenarnya dipinjamkan (dianugerah) oleh Tuhan kepada manusia agar dikelola, dirawat dan dipelihara.

Jadi Pemilik tanah yang pertama adalah Tuhan. Kemudian dtitipkan oleh pemerintah untuk digunakan, dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh manusia.

Orang pertama yang punya surat tanah disebut memiliki Eigendom, hak dasar, hak alas, atau hak karakteristik. Kapan itu terjadi ? Yaitu sejak pertama kali ada manusia yang membatasi luas tanah tertentu dengan pagar dan memanfaatkannya untuk hidup.

Baca Juga :  ORANG MISKIN HANYA TURUN 1% DALAM 4 TAHUN, ORANG KAYA NAIK 10%/ TAHUN. APBN 7 RIBU TRILYUN UNTUK SIAPA?
Sehingga lalu ada istilah pribumi dan non pribumi. Agar sejarah kepemilikan tanah jadi jelas hak alasnya. Pribumi yang dimaksud adalah orang pertama yang memagari dan memanfaatkan lahannya (untuk tempat tinggal dan lahan garap).

Hak alas pribumi atau eigendom tidak berubah, sejarah catatan tanah pemilik pertama selalu ada. Jika tidak ada pemiliknya, maka otomatis tanah tersebut menjadi tanah negara. Dan pemerintah yang dianggap sebagai wakil tuhan di muka bumi ini untuk memenejnya.

Mereka yang datang kemudian (belakangan) disebut Non Pribumi. Bisa saja kita, bisa Arab, bisa Belanda, bisa Cina dan lain-lain, yang kemudian membeli hak pemanfaatan tanah. Sementara hak alas, atau sejarah hak milik tanahnya tidak berubah. Kecuali jika ada perjanjian jual beli termasuk pemindahan hak alas, hak asli, atau hak pribumi aslinya.

Baca Juga :  Fahmi Ceduage: China Menggali Liang Kuburnya Dimulai Dari Indonesia

Di Indonesia hak pribumi disebut TANAH ADAT, GIRIK ADAT, sebagi asal usul hak milik tanah yang tulen (eigen). Kemudian karena bodohnya, dia jual giriknya, dan untuk selama-lamanya atas nama hukum jual beli, hak atas tanah itu tidak lagi ada. Tanah itu bukan lagi menjadi miliknya.

Pribumi yang bego ini kerap ngiler pengen menjadi seperti orang-orang pendatang. Mengikuti gaya hidupnya, makan roti, keju, kornet, sarden, mie instan, dan nyahi. Disitulah penjajahan itu bermula, dan dari situ juga semua keributan terjadi. Konflik, kesenjangan sosial politik yang tidak lain ngeributin lahan entah milik siapa, dan duit jual belinya entah jadi apa dan buat apa.

Baca Juga :  Kubu Prabowo Tak Hadiri Deklarasi Nasional Pilpres Damai?

Jika saja kembali pada prinsip dasar ke Tuhanan yang Maha Esa, maka kita akan sadar akan pentingnya hak alas asli. Kita hormati pemilik aslinya, dan seperti apa tanah itu harus dimanfaatkan, sebagaimana diamanatkan oleh Tuhan semesta alam.

Loading...

Baca Juga