oleh

Ganti Sistem dan Kembali ke Titik Nol

LeaderBoard_700x120

Ganti Sistem dan Kembali ke Titik Nol, catatan kecil pojok warung kopi ndeso.  Oleh: Malika Dwi Ana, Pengamat Sosial Politik

Saya pikir perlu mengingatkan pada semua orang bahwa ini cuma kontestasi politik antara Pro Jokowi dan lawan Jokowi. Yang harusnya jadi pertarungan yang cair. Bukan pertaruhan antara hidup dan mati.

Semua politisi yang ribut-ribut itu cuma sedang menaikkan nilai jualannya saja. Tidak ada perlunya baper sih. Politik itu tak identik dengan perang. Dan rakyat itu bukan batu pijakan. Janganlah terus menerus memproduksi kebencian dan mobilisasi emosional.

Mbok siapapun presiden terpilih kelak dalam pemilihan presiden (pilpres) 2019, entah itu petahana, atau Prabowo, itu tidak akan mampu menyelesaikan permasalahan (hulu) pokok bangsa ini. Jika sistem yang digunakan tetap dan masih memakai konstitusi hasil amandemen UUD 1945 beserta UU dan atau produk turunannya.

Mengapa? Ya ibarat riba, maka mau tokoh besar manapun yang menjadi presiden, jika sistemnya riba maka hasilnya ya tetep riba.

Jadi, gerakan “2019 Ganti Presiden” bukannya tidak akurat, hanya tidak mengena. Kurang pas, kurang mendasar nek jareku, kalau kata saya. Tidak tahu kalau jare Mas Anang.

Kenapa demikian? persoalan bangsa ini ada di sistem (konstitusi). Seyogyanya slogan yang digembar-gemborkan sebagai ruh gerakan adalah, “Ganti Sistem, Kembali ke Titik Nol!”. Titik Nol maksudnya adalah kembali ke UUD 45 sebelum amandemen (kemudia ada adendum).

Saya hanya khawatir, rakyat akan terlena dengan tema gerakan “Ganti Presiden”, lalu tertanam di alam bawah sadarnya. Bahwa dengan ganti presiden, maka akan menyelesaikan semua permasalahan bangsa. Padahal kan masih fiksi yang embuh.

Dan karena itu kok saya mencium aroma mencurigakan. Ada upaya The Invisible Hands tengah mengusung figur yang populer di mata publik tetapi track recordnya sangat dekat dengan para invisible hand. You know who?

LeaderBoard_700x120
Loading...

Baca Juga