oleh

Bikinlah Program Yang Mempribumi, Bagian Ketiga

Bikinlah Program yang mempribumi. Bagian Ketiga dari empat Tulisan. Oleh: Tubagus Soleh, Ketum Babad Banten Nasional.

Nampaknya pada bagian ketiga ini, saya akan fokuskan pada pembicaraan sebab sebab kekalahan Parpol Islam yang paling mendasar.

Jujur saja, saya masih menggelitik pada pertanyaan sederhana tapi membikin kerut dahi. Kenapa parpol Islam bisa kalah dan tidak pernah menjadi pemenang pemilu di Indonesia? Mengapa justru parpol sekuler yang selalu mendapat tempat di hati Rakyat? Dimana salahnya? Mengapa Umat Islam yang mayoritas tidak berbanding lurus dengan perolahan kursi parpol Islam di Parlemen?

Hingga kini saya belum mendapat jawaban yang pas dari pertanyaan pertanyaan tersebut. Masalah itu bagi saya sangat misterius. Dan sekaligus membutuhkan data empirik persepsi umat islam tentang keislamannya sendiri. Karena hal ini merupakan point penting untuk bisa menguak persoalan mendasar umat dan sekaligus menjawab teka teki kekalahan.

Umat Islam memang mayoritas tapi bagaikan buih. Bila faktanya begitu, Parpol Islam harus meniti perjuangan diatas buih-buih. Bila ini kenyataannya, sampai kapanpun parpol Islam tidak akan menang pemilu apalagi menjadi sang penentu kebijakan pemerintahan.

Baca Juga :  NU, Role Model Pergerakan Islam Rahmatan lil Alamin (Habis)

Oleh karena itu, sebab sebab kekalahan harus dicari tahu seperti juga peluang peluang kemenangan harus diketahui. Membikin peta kemenangan Umat Islam dalam perjuangan politik kekuasaan sudah seharusnya menjadi agenda bersama para steakholder umat. Bukan hanya gerakan-gerakan riak-riak kecil yang lenyap ketika terhempas oleh bibir pantai.

Peta kemenangan umat sudah sangat mendesak dibuat. Saya belum pernah melihat ada organisasi pergerakan Islam membikin peta kemenangan. Yang ada hanya setumpuk program kerja. Itupun hanya sebatas formalitas belaka. Menggugurkan kewajiban mekanisme organisasi yang mesti dilakukan. Sementara subtansi persoalan tidak pernah terbahas secara mendasar. Buktinya apa? Kekalahan parpol Islam di setiap pemilu..! Barangkali masih banyak bukti bukti empirik yang saya tidak tahu tapi masih menjadi persoalan serius umat Islam.

Saya mencatat setidaknya ada dua hal yang harus diperbaiki oleh parpol Islam. Pertama, parpol Islam harus memiliki Worldview atau Pandangan Dunia. Hal ini sangat mendasar bagi sebuah parpol yang memperjuangan nilai Islam di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Worldview ini harus sejalan dengan ideologi bangsa yang sudah disepakati. Bukan malah membikin garis diametral yang berakibat berhadapan antara Islam dan negara.

Ketiadaan WorldView ini menyebabkan para petinggi parpol Islam sangat mudah bersikap pragmatis tanpa mengindahkan nilai nilai yang dianutnya.

Baca Juga :  Pancasila dan Benahi Kaderisasi, Bagian Kedua

Kedua, Kurikulum Kaderisasi. Sebuah organisasi apapun bentuknya wajib memiliki sistem pengkaderan. Karena pengkaderan merupakan jantungnya organisasi. Matinya kaderisasi menunjukan akan berakhirnya sebuah pergerakan.

Saya mencermati, parpol Islam yang memiliki karakter kaderisasi yang sistematis baru PKS. Penguatan ideologisasi kader dilakukan melalui program pengkaderan partai. Walaupun kita melihat karakter kader partai PKS masih saja sama dengan partai sekuler. Kasus kasus korupsi yang terkuak dengan melibatkan petinggi utama partai mengindikasikan kaderisasi PKS masih jauh dari yang kita harapkan.

Oleh karenanya, kita harus menukik pembicaraannya pada Profile Kader yang dimaui oleh Islam. Yaitu yang bisa menegakan Islam sebagai nilai-nilai rahmatan lil alamin. Persoalan ini harus dibahas mendalam. Karena sesungguhnya umat islam saat ini dihadapkan pada tiga kekuatan ideologi yang mematikan dengan di bungkus oleh sistem demokrasi. Pertama ideologi komunisme. Kedua Ideologi individualisme atau liberalisme dan ketiga Ideologi Nasionalisme.

Ketiga Ideologi ini sengaja diciptakan oleh kaum Yahudi dengan dilengkapi ring tinju demokrasi. Sedangkan demokrasi sendiri sengaja dibangun oleh Yahudi dengan maksud agar kaum minoritas bisa menguasai kaum mayoritas dengan kebijakan pemerintahan yang dikuasai melalui mekanisme demokrasi.

Untuk bisa menghadapi semua ini, mau tidak mau parpol Islam haruslah menyiapkan kader Partai yang tangguh dari segi apapun. Tidak bisa asal comot orang dipinggir jalan. Sistem kaderisasi yang quranik haruslah menjadi pilihan utama. Agar kader yang dihasilkan memiliki sikap dan pandangannya sesuai dengan nilai nilai ajaran yang terkandung dalam alqur’an. Bukan karena formalitas dan simbolitas tapi lebih pada subtansialitas.

Baca Juga :  Pondasi Berbangsa Kita Sangat Kuat?

Berpegang teguh pada Alqur’an, Assunnah, Qiyas dan Ijma’ ulama salafussholih merupakan keharusan yang tidak bisa ditawar tawar lagi. Namun sekali lagi yang harus diingat, kita berada dalam gelanggang NKRI.

Sekali kali jangan keluar dari gelanggang NKRI seperti yang pernah terjadi pada zaman dahulu. Apalagi sampai mengusung gagasan luar seperti khilafah yang justru bikin umat tidak respek. Bila hal tersebut sengaja dilakukan sama saja kalah sebelum bertarung. Jadi,mulai hari ini bikinlah program yang mempribumi agar bisa masuk Langsung ke jantung umat.

Loading...

Baca Juga