oleh

Quo Vadis HUT Kabupaten Tangerang?

Quo Vadis HUT Kabupaten Tangerang? Oleh: Tubagus Soleh, Ketum Babad Banten Nasional

Perayaan HUT Kabupaten Tangerang kali ini berbeda seperti biasanya. Tidak sekedar serimonial saja, tapi lebih dari itu, untuk pertama kali di era kemerdekaan Republik Indonesia, Bupati Kabupaten Tangerang Haji Ahmed Zaki Iskandar mendapat penghormatan penggelaran adat kearyaan Tangerang.

Gelar adat yang disematkan kepada Bupati Kabupaten Tangerang Ahmed Zaki Iskandar oleh Balai Adat keariaan Tangerang bukanlah gelar biasa. Tapi sepertinya sangat bersifat sakral. Penyematan PIN sebagai pemimpin adat di wilayah Kabupaten Tangerang Banten serta pemakaian mahkota kerajaan Padjajaran kepada Bupati Zaki merupakan bentuk penghormatan yang luar biasa dari para penggiat adat dan budaya kearian Tangerang, yang secara silsilah zuriat masih tersambung kepada kesultanan Banten dan kerajaan Sumedang Larang.

Artinya ini bermakna, bahwa Bupati Ahmed zaki Iskandar dalam kepemimpinannya periode pertama memimpin kabupaten Tangerang dipandang berhasil membawa Kabupaten Tangerang yang gemilang.

Eksistensi Tangerang sebagai pemerintahan dimulai sejak diberikannya mandat oleh Pangeran In Banten Panembahan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Kodir kepada Tiga Raksa yaitu Pangeran Suriadiwangsa, Raden Aria Wangsakara dan Aria Jaya Santika. Peristiwa itu terjadi pada Tanggal 13 oktober 1632M. Dengan upacara resmi di daerah kadu agung ( sekarang masuk tiga raksa ).

Baca Juga :  Hulia Syahendra: Pro Kontra Reuni 212  Hal yang Biasa 
Dalam surat penetapan tersebut, tiga bangsawan dari Sumedang Larang ditetapkan sebagai “praksa siti ngongkrong kageungan karuhun nira” ( penjaga tanah tak berpejabat peninggalan leluhurmu),yang batasnya sungai cidurian dan sungai cipamugas ( cisadane). Serta mendapat menjaga dari ancaman musuh dari bungas wetan ( mataram). Dalam kesempatan tersebut diserahkan juga kettomas (mahkota) untuk mewakili kebantenan tanah baru seharusnya dan seperlunya.

Tiga Bangsawan dari sumedang Larang ini masih memiliki pertalian darah yang kuat dengan Banten. Pertama Pangeran Suriadiwangsa 2 beribu Ratu Widara bin Pangeran Widara bin Maulana Yusuf Sultan Banten ke 2. Kedua, Raden Aria Wangsakara bin Pangeran Wiraraja 1,ibunya adalah nyimas Cipta bin Raden Kidang Palakaran cucu Pucuk Umun Banten. Dan ketiga, Raden Aria Santika bin Raden Jaka Lalana bin Raden Kidang Palakaran ,ibunya Nyimas Nurteja binti Prabu Geusan Ulun.

Jadi ketiga bangsawan Tiga Raksa ini merupakan keponakan keponakan dari Sultan Banten ke 4 yaitu Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Kodir. Jadi bisa dimengerti, mengapa Sultan Banten ke 4 begitu sangat bergembira. Menyambut kedatangan keponakan keponakan beliau di tatar Banten dan memberikan kuasa penuh menjalankan pemerintahan di Tangerang.

Baca Juga :  Catatan Menjelang Satu Abad Nahdhatul Ulama

Bila kita merujuk sejarah yang terpapar di Primbon kearyaan Tangerang, disitu terterah dengan jelas bahwa pemerintahan di Tangerang dimulai sejak di angkatnya tiga raksa sebagai kepala pemerintahan oleh kesultanan Banten pada Tanggal 13 oktober 1632 M. Dan pusat pemerintahannya di Kadu agung yang kini bernama tiga raksa. Maka mestinya bila merujuk data sejarah tersebut, Hari jadi Kabupaten Tangerang sudah berusia 386 Tahun. Bukan seperti yang kita ketahui sekarang ini. Yaitu tanggal 27 Desember 1943 yang berarti baru berusia 75 tahun.

Sepengetahuan penulis, tanggal penetapan tersebut merupakan tanggal pemberian kolonialis Jepang yang membentuk pemerintahan di Kabupaten Tangerang pasca mengusir belanda dari Hindia belanda (sekarang bernama Indonesia).

Jadi sangat tidak elok dan perlu di koreksi tentang hari jadi HUT kabupaten Tangerang. Koreksi ini yang seharusnya dari para warga Tangerang sendiri. Yang terkenal dengan sikap patriotismenya melawan dan mengusir penjajah dari tanah tumpah leluhur kita sejak zaman kesultanan Banten,pra kemerdekaan dan pasca kemerdekaan.

Karena bagi warga Tangerang yang terkenal setia dan loyal kepada Kesultanan Banten di bawah kepemimpinan Sultan Ageung Tirtayasa. Dalam berjuang mempertahankan eksistensi Tangerang dari aneksasi imperialis dan kolonialis belanda dan jepang. Tentu saja merasa tidak nyaman bila hari jadi tumpah darah leluhurnya yang dirayakan justru dari pemberian penjajah jepang.

Baca Juga :  KPPU Akan Gelar Sidang Kartel Tiket Pesawat

Berangkat dari fakta sejarah yang terpapar dari paparimbon kearyaan Tangerang. Sudah waktunya hari Jadi kabupaten Tangerang memakai tanggal ditetapkannya Tiga raksa Tangerang oleh kesultanan Banten. Sebagai hari jadinya. Karena hal ini mengandung spirit anak kandung revolusi Republik Indonesia. Bila kita berhasil merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah Jepang dan belanda. Dan mengusir mereka dari tumpah darah kita, masa HUT Kabupaten Tangerang hasil pemberian jepang? Quo Vadis HUT Kabupaten Tangerang?

Loading...

Baca Juga