oleh

Jangan Merasa Puas Dengan Yang Dicapai: Refleksi Akhir Tahun 2018

Jangan merasa puas dengan apa yang sudah dicapai: Refleksi Akhir Tahun 2018. Oleh: Tubagus Soleh, Ketum Babad Banten Nasional.

Tak terasa kita sudah berada di penghujung tahun 2018. Dan kini kita sedang bersiap menyambut tahun baru 2019. Sebuah kenikmatan yang tak terkira yang masih kita bisa rasakan dari Allah SWT. Kita masih bisa melihat catatan-catatan kita sepanjang waktu tahun 2018. Bahkan kita pun masih diberi kesempatan untuk menuliskan resolusi buat diri, keluarga, agama dan bangsa tahun 2019.

Kita berharap semoga tahun 2019 kehidupan yang akan kita jalani lebih baik dari tahun 2018. Dan yang lebih penting tahun 2018 telah kita torehkan prestasi prestasi terbaik kita sepanjang hidup kita di tahun 2018. Ini merupakan bahan ajar buat kita agar menjadi lebih baik lagi. Catatan catatan prestasi kita serta catatan evaluasi kita di tahun 2018 haruslah kita lakukan. Kita harus berani bersikap objektif terhadap diri kita. Kejujuran memandang diri kita sendiri merupakan sikap mental yang sangat diperlukan. Bercerminlah, pandangi diri kita seutuhnya. Kita pasti akan merasakan kehangatan yang sangat dalam. Dalam cermin terlihat kita begitu luar biasa. Begitu sempurna.

Baca Juga :  Pilpres 2019: Pertaruhan Masa depan Indonesia?
Yakinlah, apa yang sudah anda lakukan di tahun 2018 merupakan modal penting untuk melangkah di tahun 2019. Sekecil dan seremeh apapun akan memiliki energi yang dahsyat ketika kita bisa mensyukuri anugrah Allah yang sangat luar biasa. Itu berarti anda masih menjadi hamba pilihanNya. Masih diberi kesempatan untuk menebarkan Rahmah bagi semua makhluk dan segenap alam.

Kita terkadang berkhayal terlalu jauh. Membayangkan kebaikan itu ketika kita rajin shalat, puasa, mampu berzakat ,rajin ngaji, rajin menghadiri majelis zikir. Dan lain sebagainya. Padahal kebaikan yang anda lakukan secara sederhana misalkan, kita selalu menghindar berbicara ghiba, selalu berfikir positif, selalu berkata baik, selalu memberi salam dan menyalamai saudara kita yang bertemu dengan genggaman yang erat, itu merupakan perbuatan dan prilaku yang luar biasa. Karena apa yang anda lakukan memancarkan energi positif dan berdampak bagi perbaikan semesta. Bukankah tiap jam terdiri dari detik-detik? Yang perlu kita jaga adalah jangan sampai detik-detik yang Allah anugerahkan terkotori oleh perilaku kita sendiri.

Baca Juga :  Bikinlah Program Yang Mempribumi, Bagian Ketiga

Moment akhir tahun ini merupakan waktu yang pas banget untuk kita bisa mengintropeksi diri secara menyeluruh. Kelemahan, kekurangan, kelebihan, tantangan dan hambatan yang ada di diri kita sendiri. Kita tidak perlu sibuk memandang keluar diri kita. Cukup pandangi dengan seksama diri kita sendiri, itu sudah bisa menggambarkan kondisi luar diri kita. Bila diri kita baik dan cara pandang kita positif, pastilah dunia luar akan terlihat baik.

Saya percaya, kita semua sudah banyak berbuat kebaikan di tahun 2018. Meskipun secara kualitas bisa saja masih ada yang perlu kita tingkatkan lagi. Kesempurnaan itu akan terlihat indah bila kita terus menerus perbaiki dan tingkatkan terus kualitasnya. Standard kualitas di tahun 2018 tidak sama dengan standard kualitas di tahun 2019. Kita berharap di tahun 2019 ini kita bisa meningkatkan kualitas perbaikan diri kita sendiri dalam rangka perbaikan bangsa.

Berfikir positif dan berfikir pro aktif akan menuntun kita untuk selalu ingin bertindak positif. Akan muncul Keinginan untuk selalu meningkatkan dan memberikan nilai tambah diri kita kepada sesama. Akan selalu muncul keinginan pengen memberikan rahmah kepada sesama. Orang bijak selalu mengingatkan kita, bahwa manusia yang paling baik adalah manusia yang paling bertaqwa dan paling banyak memberikan manfaatnya. Bukan paling baik “nasabnya”.

Oleh karenanya, menjaga kesadaran waktu setiap detiknya akan sangat membantu kita untuk menentukan peta hidup kita selanjutnya. Kita tidak mau kualitas hidup kita di tahun 2019 sama seperti di tahun 2018. Bahkan jangan sampai malah lebih mundur dibanding tahun 2018. Karena bila itu terjadi, kita termasuk kelompok manusia yang paling rugi.

Baca Juga :  Dikotomi Cebong Kampret dan Disintegrasi Bangsa

Maka dari itu, kita harus berani melakukan evaluasi kritis terhadap diri kita sendiri secara utuh agar kita bisa mengetahui dengan jelas mana yang sudah dan belum kita capai. Agar kita bisa menaiki anak tangga kehidupan yang lebih tinggi lagi. Kuncinya cuma satu saja. Jangan merasa puas apa yang sudah di capai di tahun 2018 lalu. Selanjutnya silahkan anda bikin resolusi sendiri untuk tahun 2019.

Selamat bermuhasabah. Semoga hidup kita semakin bermakna. Ahlan wa sahlan tahun baru 2019.

Loading...

Baca Juga