oleh

Menteng Raya 58: Marakkan Gerakan Nasional Mendukung Pembebasan Abu Bakar Baasyir

DETIKFAKTA – Keluarga Besar (KB) Menteng Raya 58, menyayangkan polemik pro dan kontra pembebasan Ustadz Abu Bakar Baasyir (ABB). Polemik yang berkembang dan mengarah ke kepentingan politik ini disikapi dengan dibentuknya Gerakan Nasional Mendukung Pembebasan Abu Bakar Baasyir.

Dijelaskan dalam konferensi pers yang diadakan di jalan Menteng Raya 58 Jakarta Pusat, Rabu (30/1/2019), gerakan ini dibentuk oleh KB Menteng Raya 58 yang didalamnya terdapat Gerakan Pemuda Islam (GPI), Forum Syuhada Indonesia (FSI), Forum Komunikasi Alumni Afghanistan Indonesia (FKAAI) beserta sahabat, keluarga, almuni dan santri Ustadz ABB. Sekjen GPI Diko Nugraha menegaskan bahwa gerakan ini adalah murni kemanusiaan yang dijamin UUD45 dan Pancasila.

“Kami sangat menyayangkan polemik ini dikait-kaitkan dengan situasi kontestasi nasional. Saya jamin demi Allah, bahwa soal Gerakan Mendukung Pembebasan ABB tidak ada kaitannya dengan kontestasi pilpres,” kata Diko.

Diko melihat niat baik Presiden Jokowi membebaskan ABB adalah murni kemanusiaan. Ketika pembebasan ini dikaitkan dengan persoalan administratif, maka muncullah polemik nasional. Polemik ini menjadi lebih besar lagi karena dijadikan konsumsi politik.

“Ulama kami, guru kami dijadikan bancakan (konsumsi bersama –red) politik pilpres. Siapapun disini, baik 01 maupun 02. Bahwa pembebasan ini terganjal oleh politik pilpres, itu yang kami sayangkan. Akhirnya menjadi polemik umat, itu yang kami luruskan,” jelas juru bicara KB Menteng Raya 58 ini.

Diko juga meminta kepada semua umat Islam untuk menggemakan gerakan ini ke seluruh nusantara. Ia menjamin gerakan nasional mendukung pembebasan Ustad ABB ini tidak ada hubungannya dengan politik pilpres. Gerakan ini murni mendorong pemerintah untuk membebaskan Ustad ABB berdasarkan unsur kemanusiaan.

Baca Juga :  DPN Basarmas Dukung Hasil Rekapitulasi dan Keputusan Akhir KPU
“Saya serukan ini kepada GPI, FSI, FKAAI dan semua unsur umat Islam serta para Ulama yang ada di Indonesia. Mari kita marakkan gerakan nasional mendukung pembebasan Ustadz ABB ke seluruh penjuru Nusantara,” tegas tokoh muda Islam KB Menteng Raya 58 ini.

Sementara itu Ketua Umum FSI Ustad Hasri Harahap yang mengaku sempat bertemu dengan Ustadz ABB di RSCM, Selasa (30/1/2019) menjelaskan bahwa Ustadz ABB sangat NKRI.

“Saya mendengar sendiri dari lisan Abu Bakar Baasyir bahwa beliau sangat NKRI. Beliau menyampaikan, “Saya ini membela yang 85 persen”. Artinya apa?” kata Hasri Harahap

Hasri Harahap menjelaskan, bahwa setiap orang yang melaksanakan Syariat Islam, peraturan Islam, otomatis sudah melaksanakan Pancasila dengan baik dan sempurna. Karenanya Hasri Harahap mendukung upaya Presiden dalam pembebasan Ustadz ABB.

“Kami semua disini dari FSI, GPI, FKAAI ikut menyemarakkan Gerakan Nasional Mendukung Pembebasan Abu Bakar Baasyir. Kami mendukung usaha presiden dalam masalah ini, dengan tidak menyalahkan 01 ataupun 02. Karena memang tahun ini tahun politik,” jelas Hasri Harahap.

KB Menteng Raya 58 perwakilan FKAAI Ustad Farihin dalam kesempatan ini lebih menyoroti mengenai cara pembebasan Ustad ABB. Sahabat Ustadz ABB dari tahun 1980 saat masih di Malaysia ini melihat dari berbagai wacana yang muncul. Menurutnya opsi pemberian remisi sebanyak-banyaknya adalah yang terbaik. Pasalnya, jika semua opsi harus dikaitkan dengan persyaratan adminitratif, maka tidak akan ada penyelesaian.

“Itu prinsip Ustad Abu yang dipegang selama ini. Tidak akan pernah jual beli, apalagi jual beli manusia,” kata Ustad Farihin.

Melengkapi penjelasan Ustadz Farihin, KB Menteng Raya 58 yang juga sahabat Ustadz ABB, KH. Abu Faqih Muzakir dari Solo menjelaskan posisi keyakinan yang dipegang Ustadz ABB. Pria yang berteman sejak tahun 70an ini tidak mempersoalkan apakah Ustadz ABB pernah atau tidak diminta untuk menandatangani pernyataan setia pada NKRI. Karena yang terpenting adalah sikap Ustadz ABB terhadap NKRI.

Baca Juga :  Terima Kasih Tuhan, Terima Kasih Raja, Sebuah Opini Tony Rosyid

“Beliau sendiri menyatakan, “Saya tidak memusuhi NKRI, justru saya membantu NKRI”. Faktanya apa yang pernah beliau lakukan untuk memusuhi NKRI? Tidak pernah. Kalau dituduh ikut terlibat peristiwa bom Bali, beliau dinyatakan tidak bersalah,” kata Ustadz Abu Faqih.

Lanjut Ustadz Abu Faqih, jika disebut Ustadz ABB tidak mengakui atau tunduk dibawah Pancasila, ia mengkaji lebih dalam. Semua yang dilakukan oleh manusia, hanya ditujukan kepada Allah SWT, bukan untuk yang lain. Karena jika untuk yang lain, maka akan menjadi syirik, meskipun itu untuk Pancasila. Ustadz Faqih meminta semua orang untuk menekankan hubungan antara Islam dengan Pancasila.

“Kalau semua orang mengatakan Pancasila tidak bertentangan dengan Islam. Artinya, orang menjalankan syariat Islam tidak bertentangan dengan Pancasila. Jika saya menghormati tetangga saya karena Allah semata, bukan karena Pancasila. Apa saya bertentangan dengan Pancasila? Apa saya memusuhi NKRI?,” tanya Ustadz Abu Faqih.

Ustadz Abu Faqih melanjutkan, jika kita memberi makan tetangga yang kelaparan karena sila kemanusiaan yang adil dan beradab, mungkin dipuji oleh orang atau pemerintah. Tetapi yang harus diingat, tidak akan mendapat pahala dari Allah karena dianggap riya.

Baca Juga :  Rahmat Himran Resmi Jadi Ketua PW GPI Jakarta Raya

“Itu cara pandang yang benar bagi orang yang berakidah Islamiyah. Dan itulah sebenarnya pendirian Ustad Abu Bakar Baasyir, sebagaimana juga saya yakini. Kalau sholatnya karena Pancasila, lah gimana nasibnya Abu Bakar, Usman dan Ali? Pancasila belum ada. Gimana nasibnya Pangeran Diponegoro? Jika semua dikaitkan dengan tidak tunduk dan patuh pada Pancasila,” jelas Ustadz Abu Faqih.

Lanjut KB Menteng Raya 58 ini, tunduk dan patuh pada ajaran Islam, artinya juga tidak bertentangan dengan Pancasila. Jika orang mengaku menjalankan ajaran Islam dan terbukti menjalankan dengan baik, secara otomatis menjalankan Pancasila. Karenanya, Ustadz Abu Faqih meminta agar hal ini tidak usaha dipermasalahkan.

“Jadi kalau bergitu mau dipertentangkan Pancasila dengan Al Islam? Orang beriman tidak mungkin mau menerima Pancasila kalau begitu,” tegas Ustadz Abu Faqih.

Kepada semua pihak, Ustadz Abu Faqih meminta agar pendirian Ustadz ABB tentang posisi Islam dan Pancasila dihormati. Karena dari semua tindakan Ustadz ABB, tidak ada yang bertentangan dengan Pancasila. (ECR)

Loading...

Baca Juga