oleh

Catatan Menjelang Satu Abad Nahdhatul Ulama

Catatan Menjelang Satu Abad Nahdhatul Ulama. NU dan Semangat Baru Indonesia, Bagian pertama dari dua tulisan. Oleh: Tubagus Soleh, Ketum Babad Banten Nasional

NU hampir berusia satu abad. Eksistensi NU sebagai Jamiyyah maupun Jamaah semakin mendapat tempat terhormat baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Ulama-Ulama Afganistan dan pembesar kerajaan Arab Saudi secara khusus mendatangi PBNU untuk menyatakan ingin belajar Islam Rahmatan Lil Alamin seperti yang Jamaah dan Jamiyyah NU lakukan.

Sebagai Jamiyyah NU sangat teruji dan berpengalaman menghadapi berbagai macam onak dan duri dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tokoh-tokoh NU selalu mewarnai belantika wacana dan gerakan nasional. Bahkan gagasan gagasan besar Tokoh NU sangat didengar oleh kalangan yang sangat memusuhi Umat Islam sekalipun.

Pandangan dan sikap tokoh-tokoh NU sangat visioner melebihi zamannya. Seperti kasus bergabungnya Partai NU dalam kabinet Nasakomnya Bung Karno. Sepintas berfikir cetek, orang akan mengira NU sudah tersesat, duduk bersama dengan tokoh PKI dalam kabinet. Tapi siapa duga malah pihak PKI tidak nyaman dengan keberadaan NU dalam kabinet.

Baca Juga :  Natalius Pigai: Bangsa Ini Harus Singkirkan Dagang Pengaruh

Alih-alih PKI bisa melakukan apa saja untuk bisa mempengaruhi Bung Karno, malah pergerakan PKI menjadi terhambat. Contoh yang paling nyata, gagalnya PKI membubarkan HMI sebagai kekuatan kaum muda Islam yang militan dan anti PKI. Aidit sampai berseru kepada kader kader CGMI, ” bila kalian tidak mampu membubarkan HMI, kalian lebih baik pakai sarung saja”, ungkap pidato Aidit pada rapat besar CGMI di Jakarta.

Perseteruan PKI terhadap semua kekuatan politik membuat beberapa Partai politik dibubarkan. Seperti Masyumi, PSI, dan Murba. Gelagat jelek PKI terbaca dengan jelas oleh ulama-ulama linuih Nahdhatul Ulama yang secara cermat membalas pemintaan Bung Karno bersedia bergabung dalam kabinet Nasakom.

Kecerdikan berpolitik kaum sarungan ternyata tidak bisa dibaca oleh politisi politisi kaliber nasional sekalipun. Barangkali Aidit gembong PKI tidak menduga, Partai Nahdhatul Ulama akan bersedia bergabung dalam Kabinet Nasakom yang sudah direkayasa oleh tokoh tokoh PKI sebagai palu godam pemukul lawan politiknya.

Bila kita menyimak sejarah kegagalan kudeta berdarah Gestapu PKI, menurut saya dimulai dari titik ini. PKI kehilangan arah tujuan gerakannya setelah NU masuk dalam kabinet Nasakom. Kekuatan Politik PKI tidak full mampu mempengaruhi bung Karno agar bertindak sesuai kemauan Aidit dkk.

Baca Juga :  TNI AD Bersama Nano Thomas Janardi Praktekan Penjernih Air

Kontra Revolusi yang dilakukan oleh kekuatan mahasiswa yang dimotori HMI tidak lepas dari suport Tokoh NU yang duduk di kabinet. Menteri Agama KH Saefudin Zuhri sangat berperan dalam menyelamatkan HMI dari pembubaran oleh pemerintah karena dianggap kontra revolusi.

Perlawanan kepada PKI lambat laun semakin membesar. Banser Ansor terlibat adu fisik dengan pemuda rakyat di kampung-kampung. Pelajar Islam Indonesia ( PII ) mengalami teror PKI ketika sedang melaksanakan kegiatan mental training di Kras Konigoro Kediri.

Alih-alih kendor perlawanan Banser Ansor, Brigade PII dan HMI yang didukung penuh kekuatan Umat Islam. Perlawanan itu malah semakin membesar. Tritura ( tiga tuntutan rakyat ) yang salah satu tuntutan tritura adalah Bubarkan PKI menjadi suara yang menggema oleh seluruh elemen bangsa. Dan menjadi bola salju gerakan yang tidak bisa dibendung. Tokoh muda NU, kyai Subhan menjadi icon yang menginspirasi seluruh keberanian umat membubarkan PKI.

Baca Juga :  NU, Role Model Pergerakan Islam Rahmatan lil Alamin (Habis)
Akhirnya Nahdhatul Ulama dan seluruh elemen bangsa yang komitmen pada kesepakatan berbangsa Yaitu Pancasila, UUD 1945 dan menjaga kebhinekaan Tunggal Ika menjadi pemenang politik melawan PKI.

Namun kemenangan politik ini tidak serta merta menempatkan barganing politik NU menjadi naik dan kuat. Malah dibawah rezim orde baru NU mengalami nasib yang tragis. Termarginalkan secara politik dan ekonomi.

Bukan Nahdhatul Ulama bila tidak bisa memainkan lagu sendiri. Lawan politik terpaksa harus berjoget sesuai lagu yang dinyanyikan. Sampai pada titik ajal akhirnya orde baru pun tumbang oleh para mahasiswa yang masih bau kencur. Seperti kata para sepuh rezim orde baru dijatuhkan oleh anak ayam yang baru bisa berkokok. (Bersambung ke bagian kedua)

Loading...

Baca Juga