oleh

Putih Adalah Kita.! di balik Slogan Baru Jokowi-Ma’ruf Amin

PUTIH ADALAH KITA!
(Di balik Slogan Baru Jokowi-Ma’ruf Amin)

Denny JA

Isaac Newton di tahun 1666 sudah mengembangkan teori soal warna. Dari Newton, kita mengenal spektrum warna. Ia yang pertama memahami dibalik warna warni pelangi.

Ilmu tentang warna terus berkembang. Kini kita tahu empat tingkat soal warna. Pada awalnya hanya ada tiga warna dasar saja: Merah, Biru dan Hijau.

Lalu ketika merah bercampur biru, merah bercampur hijau, biru bercampur hijau, lahirlah aneka warna lain: kuning, cyan dan magenta.

Kemudian, aneka warna itu dapat bercampur lagi satu sama lain untuk kembali menghasilkan belasan bahkan puluhan warna yang berbeda sama sekali.

Warna putih dan hitam menjadi sangat khusus. Hitam itu warna ketika semua warna di atas tidak hadir satupun. Hitam adalah hasil ketika tak disentuh oleh satu warna sekalipun.

Sebaliknya putih adalah hasil ketika semua warna di atas bercampur. Putih itu menjadi sinerji semua warna.

Teori soal warna itu seketika muncul di kepala saya ketika mendengar seruan Jokowi dalam kampanye terbuka hari pertama. Ujar Jokowi ketika kampanye di Banten: Jangan lupa tanggal 17 April. Coblos Yang Baju Puitih. Putih adalah Kita!

Baca Juga :  Kajari Kota Malang Amran Lakoni Terima Phasivic Award

Putih adalah kita? Wow!! Ini pernyataan yang puitik. Juga simbolis.

-000-
Slogan Putih adalah kita sangat kuat mengambarkan posisi Jokowi dalam paham politik yang berkembang. Apalagi berdasarkan ilmu, warna putih itu kombinasi semua warna.

Putih adalah kita secara simbolis menggambarkan Jokowi untuk semua. Jokowi untuk siapapun warga negara, apapun latar belakang etnis dan agama. Putih adalah kita itu sikap non-diskriminasi.

Hasil survei dapat menggambarkan psikologi politik 190 juta pemilih Indonesia. Di luar pemilih Muslim, untuk pemilih agama minoritas dan kepercayaan, Jokowi menang telak atas Prabowo sekitar 80.3 persen versus 11.6 persen. Sekitar 70 persen margin kemenangan Jokowi untuk pemilih segmen mayoritas (LSI Denny JA, Maret 2019).

Sesuatu telah terjadi dalam citra Prabowo yang membuatnya telak berbondong- bondong ditinggal pemilih minoritas. Sesuatu diharapkan dari Jokowi yang membuatnya sangat telak unggul di pemilih minoritas!

Hasil temuan survei: mereka yang Kristen, Katalik, Hindu, Budha, Konghucu, dan ratusan kepercayaan, jauh lebih nyaman di belakang Jokowi. Mereka merasa Jokowi sudah teruji untuk komitmen bagi semua warga, non- diskriminasi, setara, sama rendah, sama tinggi.

Bahkan di pemilih muslim, sebagian besar NU, juga Muhammadiyah, juga Muslim abangan, yang mayoritas sangat mendukung Pancasila, mayoritas segmen ini juga lebih banyak mendukung Jokowi. Bagi mereka Jokowi lebih pasti, “tidak main-main politik,” melindungi prinsip non- diskriminasi warga negara.

Baca Juga :  Hulia Syahendra: Pro Kontra Reuni 212  Hal yang Biasa 

Untuk sentimen agama, Prabowo hanya unggul di kalangan pemilih Muslim yang merasa bagian dari FPI, PKS, Reuni 212, HTI. FPI misalnya tidak dikenal sebagai organisasi yang membela paham agama yang berbeda seperti Syiah dan Ahmadiyah.

Om Google mencatat, misalnya di tahun 2015, FPI membubarkan Sholat Jumat Ahmadiyah. Dengan sendirinya, sulit bagi minoritas, seperti Ahmadiyah, untuk menganggap FPI berjuang untuk semua, setara, termasuk untuk Ahmadiyah.

-000-

Putih adalah kita dalam slogan Jokowi memberikan tiga arti sekaligus. Pertama, putih yang paling berhubungan dengan hari pencoblosan 17 April 2019. Hanya Jokowi dan KH Ma’ruf Amin yang dua duanya berbaju putih. Serba putih. Sementara Prabowo dan Sandi keduanya memakai jas hitam.

Kedua, putih yang berarti bersih, termasuk komitmen menegakkan pemerintahan yang bersih. Ini penilaian Transparancy International. Pada tahun 2018, di bawah pemerintahan Jokowi, indeks korupsi di Indonesia (Indeks Persepsi Korupsi, IPK) menurun.

Baca Juga :  8 Daftar Dosa Kekuasaan Jokowi? Sebuah Opini Muslim Arbi

Penilaian indeks persepsi korupsi dibuat dalam skala angka 0 hingga 100. Angka 0 artinya paling korup, dan 100 paling bersih. Indonesia memperoleh angka 38 di tahun 2018.

Untuk rangking dunia, posisi Indonesia juga membaik. Dari total 180 negara, Indonesia bergerak dari rangking 96 ke 89. Semakin kecil angka rangking, menuju angka 1, ia disebut negara yang lebih bersih dari korupsi

Pemerintah yang bersih itu tak lagi hanya menjadi janji Jokowi atau komitmen belaka. Namun terjadi kerja nyata perbaikan, sebagaimana dicatat lembaga internasional.

Ketiga, putih yang berarti untuk komitmen semua warga negara. Non-diskriminasi. Siapapun WNI, apapun etnisnya, apapun kepercayaannya dan apapun agamanya, semua diperlakukan sama. Semua dilindungi sama.

Warna putih yang merupakan sinerji semua warna sangat simbolis menggambarkan paham politik Jokowi atas prinsip kewarga negaran modern: Jokowi untuk semua.

Di tahun 1666, Isac Newton hanya berteori soal warna. Di era itu, demokrasi belum dikenal. Mungkin Newton akan tersenyum jika tahu, warna putih yang ia teorikan kini punya makna melampaui penjelasan soal pelangi. Putih juga di tangan Jokowi- Maruf menjadi penjelasan bagi sikap politik!*

Maret 2019

Loading...

Baca Juga