oleh

Terima Kasih Tuhan, Terima Kasih Raja, Sebuah Opini Tony Rosyid

Terima Kasih Tuhan, Terima Kasih Raja, Oleh: Tony Rosyid

Panggilan haji itu rahasia Tuhan. Misteri ilahi, kata orang. Sudah daftar, mati. Gak sempat pergi haji. Kasus begini banyak. Apalagi daftar tunggu haji bisa 22 tahun. Kedepan akan makin lama lagi. Bisa 50 tahun. Tapi masih lumayan. Setidaknya mereka sudah daftar. Ada di catatan malaikat.

Ada orang yang hanya punya keinginan. Duit banyak, ingin haji, tapi gak daftar-daftar. Lalu mati. Nah, ini baru masalah. Punya duit, tapi gak ada ekskusi. Wacana terus. Mirip seperti para politisi, suka berwacana.

Ada juga haji tanpa daftar. Tahu-tahu ada yang panggil dan memberangkatkannya. Gratis lagi. Namanya juga nasib lagi baik. Tentu tak ada yang kebetulan. Semua ada sekenario takdirnya. Tercatat di Lauhil Mahfuz.

Saya termasuk yang bernasib baik itu. Dipanggil kedutaan Arab Saudi. Berangkat haji, hadiah dari raja, katanya. Padahal saya belum pernah kenalan sama raja. Jangan tanya biaya, karena semuanya ditanggung. Masih dapat hp plus kartu dan pulsanya. Enak bukan?

Ada 1300 undangan dari seluruh dunia. Termasuk kepala Polisi Selandia Baru,seorang wanita yang sempat populer namanya setelah aksi pembantain di hari Jumat beberapa bulan lalu. Semua tamu dijamu full service di satu hotel oleh kerajaan Saudi. Jangan tanya fasilitasnya, super VVIP.

Baca Juga :  Djoko Santoso: Pindah ke Solo Ikuti Gerilya Jenderal Besar Sudirman
Baru sampai di Makkah, di depan hotel disambut oleh sejumlah anak-anak berseragam menyuguhi air zam zam. Dua langkah masuk hotel, disambut Copi Arab. Qahwah…qahwah… katanya. Dua langkah lagi, minuman juz buah ditawarkan.

Kalau makan dan minum itu biasa. Hanya cara menyuguhkan, itu yang membedakan. Disini ada aspek nilai dan peradaban. Jika anda ingin melihat kelembutan orang Arab dan kehangatan tatakramanya, jadilah tamu (dhuyuf) raja. Soal kelembutan dan kehangatan, ini perkara langka bagi mereka yang pernah punya pengalaman umroh atau haji. Pengalaman bergaul dengan masyarakat Arab.

Hotel yang disiapkan tentu bintang lima. Tak beda dengan haji plus. Kecuali service dan menunya. Sudahlah, kalau soal ini, orang Batak bilang: Muantabs.

Tamu dari Indonesia 19 orang. Ada dari MUI, pimpinan ormas, rektor, wartawan, bahkan perwira polisi. Ada pemilih Jokowi, pemilih Prabowo, bahkan pemilih dua-duanya. Golput dong? Ada yang beristri satu, beristri dua, dan bahkan beristri empat. Ada juga yang takut istri. Ups… Lalu, apa hubungannya? Hehehe. Ini menunjukkan tak ada diskriminasi identitas dan profesi. Sebab, berhaji itu pesan utamanya adalah persamaan dan kesetaraan semua umat manusia. Nah, ini baru nyambung.

Baca Juga :  Acara PA 212 Solo Raya, Jari 98: Ada Upaya Mendelegitimasi Kepolisian

Saya iseng foto tenda yang di Arafah. Kok ada karpetnya? Tanya teman saya. Seorang pembimbing haji plus plus. Karpet merah dikombinasi dengan warna hijau yang menghiasi dengan indah halaman tenda ternyata tak pernah ada di maktab haji plus plus. Sejumlah kursi yang ditata layaknya pemandangan di lobby hotel bintang lima memberi sentuhan kenyamanan sendiri saat wukuf. Tapi, ini penting untuk diperhatikan: Spirit wukuf tak boleh hilang. Yang paling utama adalah bagaimana menjiwai wukuf sebagaimana para Nabi melakukan.

Maktab di Mina paling depan. Dekat sekali dengan tempat lempar jumroh. Tempat tidurnya nyaman. Temen saya yang pernah haji plus seharga USD 32.000 bilang: tak semewah ini.

Jamaraat itu tempat buang setan, kata banyak orang. Historisnya Nabi Ibrahim, Ismail dan Sayyidah Hajar menghajar setan. Setelah pulang dari Jamaraat mestinya tak lagi tergoda setan. Kalau pulang haji masih terus korupsi, berarti jamaraat bukan jadi tempat ia buang setan, tapi…

Baca Juga :  Mabes Polri dan HMI Gelar Diskusi Tangkal Hoax dan Radikalisme

Di Mina, temen kami kehilangan celana. Lapor ke panitia. Langsung diganti. Begitulah SOP nya, kata panitia. Apapun barang yang hilang akan diganti. Asal gak hilang akal dan nyawa aja.

Sampai di Madinah disambut sejumlah remaja berseragam yang melantunkan syair: ” Thala Al Badru alaina minsaniyyatil wada’… Teruskan sendiri. Air mata saya tak terbendung. Jatuh satu satu… Cengeng! Teringat Nabi. Ingat Rasul. Ingat Habibullah. Ingat Muhammad ketika datang dan disambut penduduk Madinah. Rasanya kami tak layak dapat sambutan itu. Itu sambutan untuk Nabi, bukan untuk kami. Saya seka air mata, agar tak kelihatan seperti orang punya masalah. Padahal aslinya memang punya masalah. Masalah spiritual.

Sehari di Madinah, kemudian besoknya berziarah ke Masjid Quba’, ke Jabal Uhud dan ke percetakan Al-Qur’an. Percetakan terbesar. Nomor duanya di Turki. Setahun lalu saya sempat ke Turki, lihat percetakan disana.

Soal ziarah di Madinnah, semua travel punya program. Bedanya, kami dikawal polisi. Lengkap dengan pistolnya. Sempurna sudah sebagai tamu kerajaan. Terima kasih Tuhan, terima kasih Raja Salman.

Madinah, 15/8/2019

Loading...

Baca Juga