oleh

New Normal Life: Antara Tren Global dan Kesiapan Internal

New Normal Life: Antara Tren Global dan Kesiapan Internal. Oleh: Aprilina, SE.I, Aktivis Muslimah Peduli Umat (AMPU).

New Normal Life menurut Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmita merupakan bentuk adaptasi tetap beraktivitas dengan mengurangi kontak fisik dan menghindari kerumunan. Wiku menjelaskan New Normal bertujuan untuk menata kehidupan dan perilaku baru ketika pandemi Covid-19 terjadi. Transformasi ini akan terus berlangsung hingga vaksin untuk Covid-19 ditemukan (suara.com, 28/05/2020).

Kebijakan yg memaksa masyarakat untuk menjalani kehidupan yang hakikatnya tidak normal. Bagaimana tidak, disaat jumlah orang yang terinfeksi Covid-19 semakin banyak dan kurvanya semakin tinggi justru masyarakat diajak berdamai dengan virus. Pembukaan Mall, kantor, jalur transportasi, sekolah tatap muka di zona hijau, pembukaan tempat-tempat wisata dengan himbauan tetap menjalankan protokol kesehatan adalah bukti pemerintah tidak serius menangani wabah. Masyarakat dipaksa untuk beraktivitas di luar rumah seperti sebelum ada pandemi sementara reslitasnya pandemi itu masih ada.

Ini merupakan aksi bunuh diri dengan alasan mengembalikan aktivitas ekonomi dan meningkatkan pertumbuhannya. Meskipun protokol kesehatan tetap dijalankan, tidak menutup kemungkinan virus akan tertular dan siap menyerang siapa saja. Di sini berlaku istilah ‘herd imunity’. Bagi yg kuat imunitas tubuhnya dia akan selamat tapi tidak ada jaminan bagi orang yang lemah. Ketika pemerintah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama 3 bulan jumlah orang yang terinfeksi Covid-19 terus meningkat dan hingga hari ini ( tulisan ini dibuat, 16 Juni ) kurva Covid-19 belum melandai. Bisa dipastikan ketika New Normal terus berlangsung maka korban akan semakin banyak. Jika korban Covid-19 semakin banyak, lantas kenapa New Normal Life dilaksanakan

New Normal Mengikuti Tren Global
Negara-negara yang sudah mulai melandai kurva Covid-19, bisa menerapkan New Normal Life seperti Malaysia, Korea Selatan, Italia, Selandia Baru, Australia, Cina, Jepang, Jerman, Singapura dan Swedia. WHO menetapkan persyaratan yang harus diperhatikan oleh negara yang akan menerapkan New Normal Life. Berikut perbandingan beberapa poin yang ditentukan WHO dengan kondisi di Indonesia berdasarkan laman tempo.co, Selasa, 2 Juni:

1. Reproduksi rate di bawah 1 selama 2 pekan. Sedangkan kondisi di Indonesia reproduksi rate berveda-beda tiap wilayah.

Baca Juga :  Kubu Prabowo Tak Hadiri Deklarasi Nasional Pilpres Damai?

2. Ada penurunan minimal 50% selama lebih dari 3 pekan sejak puncak pandemi dan penambahan jumlah kasus terus menerus. Sedangkan kondisi di Indonesia penambahan jumlah kasus baru masih fluktuatif dan belum melewati titik puncak.

3. Jumlah kasus terkonfirmasi positif kurang dari 5% dari total sampel yang diuji minimal dalam 2 pekan terakhir. Sedangkan kondisi di Indonesia jumlah kasus terkonfirmasi 12,2% dari total sampel yang diuji.

4. Penurunan jumlah kematian dari pasien positif dan pasien dalam pengawasan (PDP) 3%. Sedangkan di Indonesia jumlah kematian dari pasien positif dan pasien dalam pengawasan masih naik-turun.

5. Penurunan jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit dan ICU dalam 2 pekan. Sedangkan di Indonesia jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit masih naik-turun.

6. Fasilitas kesehatan dapat menanggulangi minimal 20% kenaikan jumlah kasus Covid-19. Sedangkan di Indonesia sejumlah rumah sakit kewalahan menghadapi lonjakan pasien.

7. Semua pasien Covid-19 mendapat perawatan sesuai dengan standar nasional. Sedangkan di Indonesia sejumlah rumah sakit minim fasilitas.

8. Kasus baru diidentifikasi, dilaporkan dan dianalisis dalam waktu kurang dari 24 jam. Sedangkan di Indonesia kasus baru belum bisa diidentifikasi dalam waktu kurang dari 24 jam.

9. Jumlah hasil tes laboratorium untuk Covid-19 dilaporkan setiap hari. Sedangkan di Indonesia, spesimen Covid-19 di laboratorium masih mengantre untuk diuji sehingga terjadi penumpukan.

Kesiapan Internal
Berita meninggalnya para dokter dan perawat menjadi bukti bahwa negeri ini belum siap menghadapi wabah apalagi menjalani New Normal. Belum lama ini diberitakan oleh CNN Indonesia bahwa RS rujukan Covid-19 tumbang alias tutup karena jumlah pasien sudah melebihi kapasitas penampungan (overload), yaitu RS Universitas Airlangga, Surabaya. Daerah ini merupakan wilayah no. 2 terinfeksi Covid-19 setelah DKI Jakarta.

Selain itu, zona hijau yang kini berubah menjadi zona kuning maupun merah juga menambah bukti kelemahan masyarakat dalam melawan virus. Hal ini disebabkan tidak adanya edukasi kepada masyarakat mengenai wabah Covid-19 sampai ke wilayah terpencil sehingga masyarakat abai terhadap protokol kesehatan. Banyak yang tidak memakai masker, keluar masuk daerah dengan tidak melapor dan memeriksakan kesehatan. Ativitas di tempat keramaian seperti biasa. Tidak ada pengawasan dari pihak berwenang seperti satpol PP, polisi maupun satgas Covid-19 untuk menegur masyarakat yang tidak menjalankan protokol kesehatan. Adanya pemberitaan mengenai pro kontra penerapan kebijakan New Normal. Para Ahli virus dan tenaga kesehatan berbeda pendapat dengan pemerintah sehingga membuat masyarakat bingung siapa yang harus diikuti.

Baca Juga :  Jelang Nataru, Polsek Kapuas Hilir Pasang Spanduk Himbauan

Pandangan Islam Dalam Membuat Kebijakan Untuk Menghentikan Darurat Wabah
Ada 4 hal yang harus diperhatikan.

1. Kaedah kausalitas (sebab-akibat)
Syekh Abdul Karim As-samy dalam kitabnya As-sababiyah, Qo’idatu lujazi al-awwali wa tahqiqi al-ahdafi menyatakan bahwa As-sababiyah adalah upaya mengaitkan sebab-sebab fisik dengan akibat-akibatnya yang juga bersifat fisik dalam rangka mencapai target dan tujuan tertentu. Upaya tersebut dilakukan dengan cara mengetahui seluruh sebab yang mampu menghantarkan pada tujuan serta mengaitkannya dengan seluruh akibat secara benar.

Hanya dengan cara ini kita dapat mengatakan bahwa kita telah menjalani sebab-sebab atau menjadikan kaidah kausalitas sebagai landasan untuk melakukan berbagai aktivitas mencapai tujuan dalam syari’at Islam, menjalani As-sababiyah merupakan kewajiban dengan dalil sebagai berikut:

“Ada seorang laki-laki datang kepada nabi SAW yang hendak meninggalkan untanya. Ia berkata: “Aku akan biarkan untaku lalu aku akan bertawakkal kepada Allah” Akan tetapi nabi SAW bersabda: “Ikatlah untamu & bertawakallah kepada Allah”.

Hadis tersebut mengandung shighat Amr pada kata Ikatlah berarti terdapat tuntutan yang pasti untuk mengerjakan sesuatu ( perintah). Maka dipahami dari hadits tersebut bahwa terdapat kewajiban melakukan hukum sebab-akibat dengan kewajiban bertawakkal. Selain itu, kewajiban mentaati perintah Allah & rasul-Nya harus dibuktikan dalam bentuk amal praktis. Hal itu memerlukan usaha dan kecermatan untuk mewujudkan apa saja yang harus dilaksanakan untuk mencapai pelaksanaan tujuan tersebut. Dengan kata lain, perintah untuk melaksanakan suatu aktivitas berarti perintah untuk menjalani sebab-sebab dan merealisasikan qa’idah sababiyah, baik berimplikasi pada perolehan pahala atau tidak.

2. Memperhatikan pendapat ahli.
Rasul SAW mencontohkan hal ini pada saat penentuan markas kaum muslimin ketika perang badar yang merujuk pada pendapat sahabat yang bernama Khubab dan strategi perang khandaq (menggali parit) yang merujuk pada pendapat Salman Al-farisi. Ketika seorang pemimpin merujuk pada pendapat ahli tidak berarti citranya turun. Justru sebaliknya, karena ia merujuk pada yang benar dan akan menyelamatkan rakyatnya.

Baca Juga :  Nasib Opang dan Bajaj Cempaka Putih Kian Terjepit

3. Memperhatikan hukum atau kaidah tentang kemudharatan(dharar)
Dalam kitab Taysir al-wushul ilaa al-ushul, Syaikh Atha’ bin Khalil abu Rusytah mengungkap bahwa kaedah dharar mencakup 2 hal:

a. Asy-syari’ telah mengharamkan sesuatu yang membahayakan(dharar). Artinya: setiap perkara yang berbahaya (mengandung dharar) wajib ditinggalkan. Dari Abu Sa’id, Sa’ad bin Sinan al-Khudry RA. Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Tidak boleh (ada) bahaya & menimbulkan bahaya.”( HR.Ibnu Majah)
b. Asy-Syari’ telah memubahkan perkara yang umum akan tetapi jika salah satu bagian dari perkara yang umum tersebut mengandung dharar maka bagian tersebut menjadi haram. Hadits “Janganlah kalian meminum dari air sumur kaum Tsamud sedikitpun dan janganlah kalian mengambil airnya untuk wudhu & shalat & adonan yang telah kalian aduk berikanlah kepada unta. Janganlah kalian makan sedikitpun darinya. Dan pada malam ini janganlah seseorang keluar kecuali bersama temannya” (HR.Ahmad). Air secara umum hukumnya boleh (mubah) untuk dimanfaatkan. Air sumur bangsa Tsamud pada asalnya adalah bagian dari air yang secara umum dibolehkan. Karena dia mengandung dharar maka secara khusus haram dimanfaatkan. Sedangkan air sumur lainnya tetap dalam kemubahannya.

4. Yakin akan qadha Allah SWT dan bertawakkal kepada-Nya
Keimanan terhadap qadha akan mendorong seseorang melakukan sebab-sebab yang mengantarkannya pada tujuan selama berada di wilayah yang dikuasainya. Tawakkal merupakan hasil keimanan bahwa Allah-lah satu-satunya Al-Wakil (Zat Yang Maha Kuasa untuk mewakili segala urusan). “Apabila kamu ditolong Alah maka tidak akan ada yang sanggup mengalahkan kamu dan menghinakanmu. Maka siapakah yang dapat menolong kamu setelah pertolongan Allah?Dan kepada Allah-lah orang-orang beriman hendaknya bertawakkal” (QS. Ali Imran:160). Demikianlah tuntunan Islam dalam membuat kebijakan untuk menghentikan darurat wabah. Setiap diri akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dilakukan. Apalagi seorang pemimpin.

Cukuplah Rasulullah sebagai contoh terbaik dalam memimpin umat. “Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu teladan yang baik” (QS.al-Ahzab:21 ). Seorang pemimpin bagaikan perisai bagi rakyatnya. Jika tidak tepat melawan musuh maka binasalah seluruh rakyat yang ada di belakangnya. Jadilah pemimpin yang menyelamatkan dengan menjalankan kebijakan yang 100% normal. Wallaahu a’lam.

Loading...

Baca Juga