oleh

Rahasia Kehebatan Ilmuwan di Masa Lalu. Opini Novita Ekawati

Rahasia Kehebatan Ilmuwan di Masa Lalu. Oleh: Novita Ekawati, Pemerhati Sosial.

Ilmuwan-ilmuwan Islam di masa lalu mencatat sejarah Emas dalam peradaban dunia. Dikenal ilmunya dan penemuannya sampai saat ini, meski telah banyak mengalami perkembangan. Namun ilmu dasar dari para ilmuwan-ilmuwan Muslim terdahulu sampai saat ini masih menjadi rujukan dunia.

Tidak dipungkiri sejarah peradaban Islam telah banyak melahirkan ilmuwan-ilmuwan hebat yang tidak hanya pakar dalam satu bidang keilmuan namun berpuluh-puluh bidang keilmuan. Dan inilah yang ingin dibahas dalam tulisan singkat saya kali ini.

700 Covid DF

Ibnu Sina (Avicenna), saintis Islam misalnya telah berhasil memposisikan dirinya sebagai pelopor lahirnya ilmu kedokteran modern. Ilmuwan Islam lain yang berjasa sekaligus perintis pengembangan keilmuwan, sebut saja misalnya Ibnu Rushd (Averroes), al Biruni, Jabir Ibnu Hayyan (Ibnu Geber), Ibnu Ismail al Jazari penemu ilmu robot modern, al Mawsili ahli musik klasik, al Ghazali ahli dibidang ilmu tafsir, fiqih, filsafat dan akhlak, Ibnu Haitham, ilmuwan optik dari Basrah yang teorinya digunakan para saintis Itali untuk menemukan kaca pembesar pertama di dunia, serta masih banyak lagi ilmuwan Islam yang telah meletakkan pondasi bagi pengembangan ilmu modern sebagaimana yang kita rasakan dan alami sekarang ini.

Sungguh hebat Ilmuwan Islam pada masa lampau bisa menghasilkan karya-karya besar, fenomenal dan manfaatnya terasa hingga kini yang dinikmati oleh umat manusia dimuka bumi ini.

Baca Juga :  TNI 74 Tahun: Rakyat Paham Kalian Masih Menunggu

Para ilmuwan muslim terdahulu memberikan contoh, bagaimana mereka termotivasi belajar, mengembangkan kreativitas ilmiah dan menerapkan teknologi secara arif, oleh dorongan ayat-ayat al Quran dan sabda Nabi ﷺ.

Rahasia kesuksesan para ilmuwan :

1.Pemahaman agama yang kuat. Pada usia Balita mereka sudah terbiasa dan dibiasakan dengan ayat-ayat suci al Quran bahkan banyak dari mereka yang hafal al Quran semasa kecil. Pemahaman bahasa Arab dan ketekunan mendalami ajaran Islam yang bersumber dari al Quran dan Hadist membuat mereka bersemangat untuk lebih meneliti obyek-obyek yang menjadi kajiannya. Suatu keniscayaan kekuataan naqliyyah para ilmuwan itu telah membimbing daya aqliyyah dan emosi mereka dalam memperoleh karya spektakuler.

2.Disiplin, tekun dan motivasi yang tinggi untuk menggali ilmu melalui al Quran dan Hadist. Tiada hari tanpa membaca dan mengkaji al Quran dan Hadist serta terus berupaya untuk meningkatkan pemahaman dari apa yang tersirat dan tersurat dalam ayat-ayat qawliyyah tersebut. Ketertarikan mereka pun berlanjut pada ayat-ayat Allah yang lain (kauniyyah), sehingga mereka berhasil melakukan perenungan, uji coba, penyelidikan dan pendalaman lebih lanjut terhadap apa yang dikaji.

Baca Juga :  Pilot Project Kaderisasi Model PP GPI Ciptakan Kader Militan Terorganisir

3.Selalu melandasi proses belajarnya dengan keimanan dan ketakwaan, karena kecerdasan intelektual tidak akan berguna jika tidak ditopang dengan keimanan dan ketakwaan.

4.Banyak bidang keilmuan yang dipelajari dan ditekuni. Merasa pentingnya keseimbangan antara belajar ilmu dunia dan ilmu agama.

700 Covid DF

5.Tidak suka menunda-nunda untuk mempelajari sesuatu selama merasa dirinya mampu.

6.Mengamalkan ilmu, tidak hanya sekedar mencari ilmu tapi segera mengamalkan atau mengaplikasikannya di dalam kehidupan, sehingga kreativitas dan inovasi selalu teruji dan terasah.

7.Mengajarkan ilmu, dengan konsep “berbagi tanpa harus menunggu menjadi ahli” dan mengajar tanpa pamrih, karena pada prinsipnya ilmu semakin diajarkan semakin luas pengetahuannya.

8.Selalu merujuk kepada petunjuk Tuhan. Tidak mengandalkan pengetahuan atau akal semata tapi selalu berdoa dan bermunajat di sepertiga malam akan membawa pengetahuan yang lahir bersumber langsung dari Al Alim, Sang Maha Mengetahui seluruh ilmu di muka bumi ini.

9.Dukungan negara.
Negara adalah unsur yang paling penting dalam mencetak generasi emas di masa lalu. Tanpa dukungan dari negara, kepintaran atau kejeniusan para ilmuwan tidak akan ada artinya apa-apa.

Pada masa keemasan Islam, banyak orang kaya ataupun penguasa yang ingin menorehkan namanya dalam keharuman ilmu. Mereka melakukan wakaf berupa pembangunan lab riset atau observatorium, lengkap dengan kebun yang luas untuk menghidupi para ilmuwannya agar melakukan riset.

Baca Juga :  Terima Kasih Tuhan, Terima Kasih Raja, Sebuah Opini Tony Rosyid

Negara yang pro pada pencerdasan rakyat-rakyatnya, memberi akses pendidikan yang mudah, gratis dan maksimal kepada rakyat. Fasilitas yang mendukung dan memadai untuk berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi.
Memberikan penghargaan yang luar biasa atas hasil cipta dan karya para ilmuwan dari negara, membuat berlomba-lombanya para ilmuwan untuk bisa saling memberikan karya dan hasil yang terbaik untuk ummat, serta demi meraih keridhoan Allah SWT. Hal itulah yang kemudian melahirkan peradaban yang cemerlang.

Kecerdasan dan kehebatan para ilmuwan tak hanya bertumpu pada aspek akal dan otak semata namum kecerdasan berbasis spiritual aqidah yang benar, menjadikan mereka ilmuwan hebat di masanya yang dikenal ilmunya sampai saat ini.

Semuanya berawal dari sebuah dorongan transendental yaitu al Quran dan as Sunnah, yang kemudian diproses dengan sebuah metodologi yang dibentengi syariah oleh orang-orang yang sejak kecil dididik dalam pendidikan Islam, dan akhirnya menerapkan teknologi yang ditemukannya untuk memberi rahmat seluruh alam.

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (Al Mujadilah : 11)

Wallahu a’lam bisshawab

700 Covid DF
Loading...

Baca Juga