oleh

Buah Simalakama Antara Kesehatan dan Ekonomi. Opini Heni Andriani

Buah Simalakama Antara Kesehatan dan Ekonomi. Oleh: Heni Andriani, Pemerhati Umat dan Member AMK.

Pandemi Covid-19 telah banyak menyisakan keresahan dan keterpurukan ekonomi yang kian drastis. Memenuhi kebutuhan pokok hidup terasa sulit di masa pandemik. Kesulitan mencari penghidupan saat ini amat dirasakan oleh semua kalangan.

Banyak karyawan yang dirumahkan, pabrik-pabrik yang mem-PHK karyawan secara besar-besaran hingga menutup pabrik karena sepi orderannya, toko-toko tutup bahkan mengalami gulung tikar. Sebuah kenyataan hidup yang sangat pahit bagi siapapun yang mengalami saat ini.

700 Covid DF

Bahkan hingga saat kini Covid – 19 telah banyak merenggut nyawa hampir sebagian besar penduduk negara ini. Apatah lagi saat pemberlakuan New Normal dimana kurva penyebaran virus belum landai telah menelan korban para pedagang di pasar -pasar.
Jumlahnya kian hari kian meningkat semua ini terjadi akibat bercampurnya orang yang sehat dan sakit terutama yang melakukan transaksi jual beli di pasar serta tidak patuhnya mereka dalam menggunakan protokol kesehatan.

Dilansir Okezone.com bahwa sebanyak 529 positif virus Corona dan yang meninggal pun hingga 29 orang. Pemberitaan ini tentu semakin membuat kita bertanya mengapa korban Covid- 19 semakin bertambah terus artinya menandakan bahwa kesadaran masyarakat akan bahaya virus ini masih kurang dan menganggap enteng. Ataupun bisa saja karena persoalan ekonomi mereka tidak mengindahkan bahaya virus tersebut. Karena kebutuhan perut tidak bisa ditunda dimana saat ini negara tidak memberikan jaminan kebutuhan pokok hidup masyarakat.

Akibat dari kebijakan yang sering membingungkan serta edukasi yang kurang merata banyak dari para pedagang yang justru mengusir petugas tes corona hal ini seperti yang terjadi di pasar Cileungsi Bogor (kumparan.com10/6/2020 ).

Baca Juga :  Pilpres 2019: Pertaruhan Masa depan Indonesia?

Sebaran virus akan terus melonjak naik manakala kurangnya edukasi kepada masyarakat. Menggunakan masker, cuci tangan serta menjaga jarak memang masih banyak dari para pedagang tidak melakukannya terutama di pasar-pasar. Hal ini terasa sulit bagi para pedagang kalau terus dilakukan. Bahkan ada salah satu persoalan yang dianggap sulit yaitu dalam menjaga jarak antar pedagang berapa luas pasar yang harus di sediakan agar bisa menerapkan jaga jarak antar penjual dan pembeli ujung-ujungnya akan terjadi kemacetan,lahan parkir yang menyempit dsb. Persoalan baru pun akan terjadi buah hasil dari kebijakan yang tidak jelas dan membingungkan masyarakat.

Persoalan ini akan terus bertambah pelik manakala berbagai kebijakan tidak menggunakan metode persuasif di tengah masyarakat. Rasa ketidak nyamanan pun akan semakin kerasa ketika terjadi pengawasan oleh aparat ujung-ujungnya kebijakan yang dikeluarkan karena tidak tepat dari segi waktu dan tempat yang dipakai seperti melakukan tes kesehatan di pasar menimbulkan persoalan baru.

Seharusnya agar terciptanya sinergi antara rakyat dengan penguasa adalah dengan memberikan edukasi yang jelas tentang bahaya virus corona. Selain itu juga dalam rangka menghentikan virus Covid 19 ini pemerintah harusnya menyediakan sarana yang memadai, dilakukan tempat tes kesehatan di tempat yang seharusnya bukan di pasar yang kadang tingkat emosional orang melakukan transaksi jual beli lebih tinggi sehingga tes kesehatan dilakukan pun tidaklah nyaman dirasakan. Bahkan banyak orang enggan diperiksa biasanya karena ribet karena sedang melakukan transaksi jual beli .

Baca Juga :  Pesan Supir Taxi Kepada Presiden Jokowi

Adanya pendekatan agar masyarakat sadar protokol kesehatan harus dilakukan dengan persuasif. Bukan dengan menakut – nakuti apalagi dengan kekerasan. Hal yang tidak boleh dilupakan oleh negara adalah adanya jaminan kebutuhan pokok hidup masyarakat. Semua ini agar masyarakat bisa tenang manakala dirumah tanpa harus keluar berdagang dengan menantang wabah.

Namun lagi – lagi karena negara ini mengadopsi sistem Kapitalisme rasanya sulit mendapatkan kebijakan yang tepat serta menyelesaikan masalah masyarakat. Untung dan rugi menjadi patokan dalam setiap kebijakan. Sumber daya alam yang melimpah ruah pun luput tidak diberikan kepada rakyat. Saat ini justru yang terjadi kekayaan alam yang melimpah dipersembahkan kepada asing.

700 Covid DF

Hal ini berbanding terbalik dengan Islam saat yang mampu menyelesaikan semua problematika kehidupan manusia.

Di dalam Islam ketika wabah terjadi adalah dengan melakukan Lockdown secara total. Menutup bandar udara, terminal, stasiun pertokoan yang bukan menyediakan kebutuhan pokok dan melarang siapa pun yang masuk ke dalam negeri agar penyebaran virus segera berakhir. Edukasi terhadap masyarakat dilakukan agar tumbuh kesadaran tentang bahaya wabah virus tersebut.

Selain itu dilakukan tes untuk mendeteksi yang terpapar virus. Bagi mereka PDP diisolasi dan dilakukan karantina yang seluruh nya ditanggung oleh negara. Bagi OTG dan yang berisiko diberikan asupan yang cukup untuk meningkatkan imunitas tubuh. Pun demikian orang yang sehat terus dijaga imunitas tubuhnya dan bisa beraktivitas secara normal dengan protokol kesehatan.

Sebuah cara yang sangat mudah dan praktis serta tidak menimbulkan persoalan baru karena semua aturan yang lahir buah dari ketakwaan seorang pemimpin kepada Allah Swt.

Baca Juga :  Khilafah Lagi, Gak Bosen? Sebuah Opini Tony Rosyid

Penguasa di negeri Islam melakukan tanggung jawab yang penuh atas periayahan kepada rakyat tanpa sedikit pun mempertimbangkan untung serta rugi. Rakyat melaksanakan kebijakan dengan landasan ketakwaan. Adapun ketika ada yang melakukan pelanggaran kebijakan negara melakukan sanksi tegas semata-mata hal tersebut dilakukan untuk kemaslahatan bersama. Semuanya terasa indah dan mudah karena kesigapan negara dalam menangani wabah.

Bahkan ada sebuah kisah tentang gambaran seorang pemimpin di masa Islam berjaya yaitu dalam sebuah riwayat yang ditulis dalam buku Sang Legenda Umar bin Khattab karya Yahya bin Yazid al-Hukmi al-Faifi disebutkan, ketika rakyat sedang dilanda kelaparan, Umar bin Khattab selaku khalifah naik mimbar dengan perut yang keroncongan. Sambil menahan lapar yang tidak kepalang, Umar bin Khattab berpidato di hadapan orang-orang.

Dia mengatakan kepada perutnya, “Hai, perut, walau engkau terus meronta-ronta, keroncongan, saya tetap tidak akan menyumpalmu dengan daging dan mentega sampai umat Muhammad merasa kenyang.”

Kisah lainnya diriwayatkan Abdurrahman bin Abu Bakar. Dia berkata, “Umar bin Khattab datang. Dia membawa sepotong roti dan minyak. Untuk menghilangkan rasa laparnya, roti dan minyak itu disantap begitu saja sambil berkata, ‘Hai perut! Demi Allah, engkau akan terus kulatih menikmati roti dengan mentega ini saja.'”

Inilah gambaran pemimpin yang bertanggung jawab atas rakyatnya. Oleh karena itu, sudah saatnya mengakhiri kesengsaraan hidup dalam kungkungan sistem Kapitalisme.
Namun jika kondisi bangsa ini tidak mau berubah maka rasanya sulit mengharapkan Indonesia bisa segera berakhir dari wabah Covid 19 ini dan keberkahan hidup akan sulit didapatkan.

Wallahu a’lam bishshawab

700 Covid DF
Loading...

Baca Juga