oleh

Menjelang Gelar Pahlawan untuk Soeharto, Keluarga Korban Tanjung Priok Bicara Lugas

DETIKFAKTA.ID – Permintaan maaf keluarga Presiden Soeharto terhadap korban Tragedi Tanjung Priok 1984 pernah disampaikan secara langsung. Hal itu diungkap oleh Muchtar Beni Biki, adik kandung almarhum H.M. Amir Biki, salah satu korban peristiwa berdarah tersebut.

Menurut Muchtar, permintaan maaf itu disampaikan sekitar awal tahun 2000-an ketika Soeharto dan Jenderal (Purn) L.B. Murdani sedang sakit. Keluarga korban diundang ke rumah sakit tempat Soeharto dirawat, dan pertemuan diwakili oleh Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut) sebagai juru bicara keluarga Cendana.

“Ucapan Mbak Tutut sangat jelas, menyesalkan tragedi masa lalu dan menyampaikan permintaan maaf dari keluarga, khususnya dari Pak Harto,” kata Muchtar saat ditemui detikfakta.id, di Kediamannya, Sukapura, Cilincing, Jakarta Utara, Minggu (12/10/2025).

“Itu pesan moral yang kami terima dengan ikhlas. Bagi saya pribadi, permintaan maaf itu sudah kami maafkan,” tambahnya.

Namun, di balik sikap pemaafan itu, keluarga masih merasa ada luka yang belum tuntas. Bukan soal pribadi, melainkan stigma yang melekat selama puluhan tahun terhadap korban dan keluarga peristiwa Tanjung Priok.

“Kami masih dianggap pemberontak, dituduh ingin mengganti Pancasila. Itu tuduhan yang sangat berat. Stigma itu berasal dari rezim Orde Baru,” ujar Muchtar.

Menurutnya, justru stigma tersebut yang mendorong keluarga korban berupaya mencari keadilan hukum dan moral. Mereka telah mengajukan permohonan ke Komnas HAM, DPR, dan pemerintah sejak awal 2000-an agar tragedi itu diselesaikan secara terang dan berkeadilan.

“Kami datang ke Komnas HAM bukan untuk membuka luka lama, tapi menegaskan bahwa ini masalah antara negara dan rakyat. Ada 17 peristiwa pelanggaran HAM berat yang tercatat di Komnas HAM, dan Tanjung Priok salah satunya,” tegas Muchtar.

Soal rencana pemerintah yang tengah mempertimbangkan pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto, Muchtar menyampaikan pandangan tegas.

“Kami tidak bisa menerima jika pemerintah belum menyelesaikan persoalan ini secara clear and clean. Jangan sampai pemberian gelar pahlawan justru melukai korban yang belum dipulihkan hak dan martabatnya,” katanya.

Meski begitu, Muchtar mengaku tidak menyimpan dendam pribadi terhadap keluarga Soeharto maupun pihak-pihak yang pernah terlibat.

“Kami hanya ingin keadilan ditegakkan, bukan balas dendam. Maaf sudah kami berikan, tapi kebenaran tetap harus ditegakkan,” tutupnya.(ANW)

 

 

 

 

 

Loading...

Baca Juga