oleh

Sekjen GPI Himbau Prabowo Minta Maaf Soal Salah Sebut Gelar Nabi

LeaderBoard_700x120

DETIKFAKTA – Sekertaris Jendral Gerakan Pemuda Islam (Sekjen GPI) Diko Nugraha menghimbau agar Prabowo Subianto meminta maaf  kepada umat karena salah sebut gelar Nabi Muhammad SAW. Salah penyebutan ini terjadi saat Prabowo berorasi di Reuni Akbar 212, Minggu (2/12/2018).

Dalam wawancara via percakapan elektronik, Jumat malam (7/12/2018), ada dua hal yang disesalkan oleh Diko. Masalah kedatangan Prabowo yang merupakan salah satu kandidat calon presiden dan kesalahan penyebutan itu sendiri.

“Pertama-tama saya sangat menyayangkan peristiwa itu terjadi, karena momentumnya gak pas. bahwa itu acara keumatan yang kontennya agama, bicara ukhuwah Islamiyah, tiba-tiba ada capres. Itu ditambah lagi fatalnya ketika penyebutan gelar Nabi Muhammad SAW, ada kesalahan,” kata Sekjen GPI.

Lanjut Diko, posisi Nabi Muhammad bagi umat Islam sangat fundamental. Pertama, nama Nabi Muhammad SAW masuk dalam  kalimat syahadat. Karena kalimat syahadat masuk dalam rukum Islam, maka penyebutannya pun tidak boleh salah. Kedua, Nabi Muhammad masuk di rukun iman. Karena vitalnya nama ini, maka Diko berharap agar guru spiritual Prabowo menjelaskan permasalahan ini.

“Disini saya menghimbau kepada Guru Spiritual Prabowo agar segera meluruskan soal dialek atau penyebutan Nabi Muhammad yang pasti. Jangan sampai menimbulkan problema di umat. Karena ini akan dianggap sesat lah, apa lah, karena ini berhubungan dengan kompetensi,” jelas Diko.

Pelurusan kesalahan penyebutan ini dirasa Diko sangat penting. Karena pemahaman ini berkaitan dengan massa dan lain-lain. Diko kembali menegaskan pentingnya pelurusan ini, karena nama dan gelar Nabi Muhammad sangat sensitif di agama Islam. Apalagi ini soal sosok nabi utama, yang dipakai dalam syahadat. Ketika salah dalam menyebut,menurut Diko, berarti sama saja melakukan penistaan terhadap rukun Islam dan rukun iman.

“Saya menghimbau, Prabowo pribadi meminta maaf atas kelalaian itu. Kedua, guru spiritualnya meminta maaf, bahwa ada kelalaian sampai muridnya, pak Prabowo itu masih belum fasih. Karena bagi saya, ini soal sangat dasar di Islam. Soal Al Fatekah itu bukan rukun Islam. Kalau langgam ngaji, nggak ada urusannya dengan rukun Islam. Kalau ini jelas, karena masuk rukun Islam dan rukun iman,” tegas Sekjen GPI.

Diko juga sangat menyayangkan kesalahan ini dibiarkan oleh ulama yang hadir. Menurutnya, seyogyanya ulama juga tidak menutup mata ketika ada kelalaian capres yang diusungnya. Karena baginya ini bukan soal politik, bukan soal kenegaraan, tapi ini soal konsepsi keagamaan yang menjadi pondasi Pancasila.

“Bagi saya, ulama pun tidak bisa membiarkan ini. Justru ulama lah yang bertanggungjawab. Ulama yang berdosa ketika melihat saudaranya lalai dan tidak diluruskan,” ujar Diko Nugraha.

Kepada anggota GNPF dan anggota ijtima ulama, Diko menghimbau agar masalah ini segera diluruskan. Karena jika tidak, ini menjadi problem sosial dan menjadi konflik horisontal antar ormas agama. Kekhawatiran terjadinya konflik antar umat beragama ini sangat beralasan, karena ada banyak organisasi massa yang berbasis agama di Indonesia.

“Karena di sini ada ormas-ormas besar. Ada NU, Muhammadiyah, Persis, Dewan Dakwah, ini sangat memegang teguh kaidah-kaidah rukun Islam dan rukun iman. Jadi ini tidak bisa dibiarkan, ini sangat pondasi bagi kami,” tutur Sekjen GPI.

Diko berharap, semoga umat Islam mau memaafkan kelalaian Prabowo. Kepada Prabowo, Diko menghimbau agar Prabowo untuk lebih belajar lagi tentang keislaman. Karena bagaimanapun, Islam adalah agama mayoritas di NKRI ini. (OSY)

LeaderBoard_700x120
Loading...

Baca Juga