oleh

Muhasabah Akhir Tahun, Banten Diangkat Derajatnya Oleh ALLAH SWT

Banten Sedang Diangkat Derajatnya oleh ALLAH SWT : Muhasabah Akhir Tahun 2018. Oleh: Tubagus Soleh, Ketum Babad Banten Nasional.

Allah Maha Baik, Allah SWT punya caraNya sendiri untuk mengingatkan hambaNya melalui tsunami senyap ini. Selanjutnya tugas kita hanya melaksanakan tugas kemanusiaan dengan sebenar benarnya untuk membantu para korban dan memulihkannya. (Haji Mbay Mulya Syarif, pembina Babad Banten Nasional).

Tsunami senyap di akhir pekan bulan desember 2018 menghentakan kita semua. Tanpa ada peringatan dini dari BMKG, tsunami senyap bergerak serentak meluluhlantakan ribuan rumah dan bangunan serta ratusan jiwa melayang. Baru kali ini terjadi di Banten, tsunami yang begitu besar tidak bisa terdeteksi oleh pejabat terkait dan paling bertanggungjawab BMKG. Keselamatan warga yang menjadi prioritas utama terabaikan disebabkan kelalaian ini. Di Banten, BMKG telah gagal menjadi pelayan warga yang semestinya paling bertanggungjawab.

Catatan tsunami di Banten bukan yang perkali ini saja. Tsunami besar pernah terjadi di tahun 1883 ketika gunung Kratakau meletus. Dahsyatnya letusan Krakatau menjadi legenda sejarah yang sangat membekas di masyarakat Banten. Tidak hanya karena sebab yang alami. Tapi juga dalam sisi spiritual warga Banten.

Bagi warga Banten, gejolak alam terjadi tidak hanya sebab sebab alami saja. Tapi juga kita sebagai khalifahNya sudah tidak mampu menjaga harmoni kehidupan dengan alam. Menurut penuturan Kang Hasan Gaido pembina organisasi Cinta Banten, beliau mengatakan, ” paling minimal kita harus bisa menjaga dan melakukan hubungan baik dengan ketiga hal. Pertama, menjaga hubungan kita kepada Allah (hablun minallah ). Kedua, menjaga hubungan kita kepada Manusia ( hablun minannas ) dan ketiga menjaga hubungan kita kepada alam ( hablun minal alam). Sejak dulu, ketiga hal tersebut merupakan kewajiban yang terjaga bagi segenap warga Banten yang sudah mentradisi.

Di zaman Kesultanan Banten, ada petugas khusus untuk menjaga keharmonian alam dan warga khususnya lautan, sampai sampai kesultanan Banten, menugaskan pejabat khusus dengan pangkat Gelar Pangeran Jaga Lautan. Di titik titik tertentu, bisa dipastikan kangjeng Sultan Banten menugaskan seseorang khusus untuk menjaga keharmonian antara Manusia dan Alam.

Sehingga di masa itu, kehidupan yang harmoni antara warga dan alam selalu saling menjaga. Dalam catatan masa keemasan kesultanan Banten, nyaris tidak terdengar cerita duka lara yang mengenaskan berupa bencana alam seperti tsunami senyap yang baru saja terjadi.

Pinggir pantai bukanlah tempat untuk menumpahkan hajat kotor manusia. Bukan tempat menanam benih benih kemaksiatan. Dengan dalih apapun. Tapi merupakan tempat yang dijaga secara khusus oleh orang orang khusus pilihan kangjeng Sultan Banten.

Tsunami senyap yang terjadi beberapa hari lalu, mengingatkan kita semua, betapah pentingnya menjaga keharmonian kita dengan alam. Sekali kita suul adab dengan alam, tunggulah saatnya alam akan juga bertindak dengan caranya sendiri.

Sekarang, nasi sudah menjadi bubur. Tapi kita masih bisa mengolahnya untuk menu sarapan pagi, makan siang dan juga makan malam. Dengan ditambah berbagai macam lauk pendampingnya. Hingga bubur nasi tersebut menjadi hidangan menu yang nikmat. Artinya, jika sekarang situasinya sudah sedemikan rupa. Maka yang harus dilakukan oleh pemprov Banten dan pemda Kabupaten sebagai pemegang otoritas kebijakan, harus mengkaji ulang keberadaan hotel, penginapan dan tempat-tempat lain yang berpotensi mengundang bencana susulan. Biarlah laut kita menjadi milik segenap warga Banten khususnya dan bangsa Indonesia umumnya. Tidak lagi menjadi sekat yang menutupi pemandangan warga kepada sang lautan. Dengan aturan yang ketat.

Saya sangat mengapresiasi kecepattanggapan Pemprov Banten di bawah kepemimpinan Gubernur Pak Wahidin Halim dan Wakil Gubernur kang Andika Hazrumy, dalam reaksi cepat memberikan pertolongan kepada seluruh korban terdampak tsunami. Bahkan dengan berani merubah tradisi pesta awal tahun yang selalu terkesan hura hura dengan kegiatan muhasabah melalui kegiatan zikir dan doa.

Dalam surat edaran Gubernur yang dipublish, kemudian diikuti oleh semua pemda dan pemkot Kabupaten Kota se Banten, baru kali ini terjadi secara resmi pemerintah melarang kegiatan pesta awal tahun dengan menggantinya dengan kegiatan yang lebih bermakna. Kita berharap dengan doa yang kita panjatkan bersama seluruh rakyat Banten melalui kegiatan tersebut kepada Allah swt di awal tahun, bisa merubah gejolak alam menjadi harmoni lagi dengan kita sebagai khalifahNya.

Sebagai kaum beriman, kita yakin doa yang kita panjatkan pasti didengar dan dikabulkan oleh Allah swt. Inilah salah satu cara kita dalam rangka menjaga keharmonian kita dengan alam.

Hari sabtu kemarin, penulis diundang oleh Pembina Babad Banten Nasional Ka Haji Mbay Mulya Syarif ke rumah beliau. Disitu ada beberapa tokoh Banten. Dalam salah satu uraiannya, seorang Tokoh Banten mengatakan, alam punya caranya sendiri dalam berdakwah. Barangkali inilah cara Allah swt mengingatkan kita agar selalu terpaut hati kita padaNya.

Dalam hadits Qudsy, Allah swt berfirman,” Barang siapa yang rela menerima ketetapan hukumKu, sabar terhadap cobaanKu, bersyukur terhadap nikmatKu, akan Aku catat orang baik. Dan pada hari kiamat akan Aku bangkitkan bersama-sama dengan golongan orang orang yang baik. Sebaliknya, barangsiapa yang tidak rela, tidak sabar menerima cobaanKu, tidak mensyukuri nikmatKu, keluarlah dari kolong langitKu, carilah Tuhan yang lain dariKu ! (Hidayatul Mursyidin).

Semoga kita warga Banten termasuk kategori hambaNya sebagaimana yang termaktub dalam hadits qudsi diatas.

Inshaallah, melalui “bencana tsunami” selat Sunda, sesungguhnya Allah Swt Yang Maha Kuasa sedang mengangkat derajat orang Banten ke singgasana kemuliaanNya. Amin.

Loading...

Baca Juga