oleh

Longsornya Makam Imogiri Dalam Kacamata Spiritual

Longsornya Makam Imogiri Dalam Kacamata Spiritual
“Catatan Kecil Pojok Warung Kopi Ndéso”

Oleh: Malika Dwi Ana
(Penggiat Institute Study Agama Civil Society)

History repeats itself… Sejarah itu selalu mengalami pengulangan, atau disebut dengan istilah Cakra Manggilingan, bak roda pedati, selalu berputar dan kemudian berulang, kadang di atas, kadang juga di bawah. Meski tak sama persis, tapi temanya tetap sama.

Pengulangan sejarah itu dalam konteks spiritual Jawa ada masanya atau siklusnya, bisa 100 (seratus) tahun sekali, bahkan 500 (limaratus) tahun. Maka masa lalu bukan untuk dihindari, tapi untuk dicari tahu dan dipelajari. Sebab dalam tubuh yang kuat terdapat memori masa lalu yang mengikat.

Demikian dalam peristiwa longsornya makam para raja di Imogiri. Secara ilmiah, hujan deras menyebabkan tanah longsor di sejumlah titik di kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Senin, 18 Maret 2019. Dan kebetulan salah satu titik longsor terjadi di tebing kompleks makam raja-raja Mataram, Imogiri. Curah hujan yang tinggi menyebabkan;
1. Luapan, Selatan TPR Parangtritis
2. Luapan, Sungai Gejuk, Sanden
3. Luapan, Sungai Belik Wonokromo
4. Longsor, Seloharjo Pundong
5. Luapan, Kali Celeng Imogiri
6. Luapan, Kedungpring
(Info Posko Induk TPP Dinas Sosial DIY)

Tetapi bagi orang Jawa, kejadian longsornya makam imogiri (makam para raja) tidak sesederhana itu melihatnya. Karena secara spiritual cara berpikir orang Jawa tidak bisa dilepaskan dari sasmita atau sanepan. Jika makam raja longsor, pertanda apakah ini?

Dalam pandangan spiritual Jawa di alam semesta ini terdapat dua alam yang disebut sebagai jagad kecil (mikro kosmos) dan jagad besar (makro kosmos). Secara fisik, seperti halnya teori di Barat, jagad kecil/alit adalah alam manusia sedangkan jagad besar/ageng adalah alam semesta/jagat raya. Tetapi dalam pandangan hakekat atau spiritual Jawa sebenarnya adalah kebalikannya bahwa jagad alit (mikro kosmos) adalah alam semesta dan jagad ageng (makro kosmos) adalah alam/diri manusia.

Baca Juga :  Pembakaran Bendera Tauhid Berdampak Kebencian Terhadap Islam

Pandangan tersebut didasarkan bahwa alam semesta ini berjalan menurut takdirnya (sunnatullah), sebagai contoh: bumi berputar mengelilingi matahari, arah putaran bumi dan kecepatanya berjalan sesuai takdir atau hukum alam, bumi tidak memiliki kehendak untuk berhenti atau berbalik arah misalnya. Sedangkan kehidupan manusia berjalan atas kehendak (mencakrawala), manusia makan, minum dan beraktifitas dalam hidupnya semua berjalan atas kehendaknya sendiri.

Begitulah maka dalam hakekat dan pandangan spiritual Jawa, alam atau diri manusia lah sebenarnya yang disebut sebagai jagad ageng (makro kosmos) karena mempunyai kehendak dalam mengatur pergerakannya.

Lalu bagaimana alam semesta mempengaruhi kehidupan manusia?

Jagad alit, kecil, maupun jagad ageng, besar, masing-masing memiliki sifat saling kuasa menguasai atau dalam bahasa Jawa disebut dengan istilah wisesa amisesa wus. Keduanya cenderung menjadi dominan dalam kehidupan, meski begitu jagad alit yang ada dalam diri manusia akan lebih banyak berperan mengontrol, sedangkan alam semesta cenderung bersifat merespon karena memang jagad manusialah yang memiliki kehendak sedangkan alam semesta hanya berjalan sesuai takdir (sunnatullah).

Maka segala perilaku manusia yang menyalahi atau mengganggu keseimbangan alam, tentu saja membuahkan respon yang disebut dengan bencana. Jadi bencana adalah cara alam merespon apa yang sudah dilakukan oleh manusia, atau cara alam kembali menyucikan diri agar kembali pada keseimbangan. Ini prolog dari tulisan ini.

Balik ke history repeats itself, bahwa sejarah selalu mengalami pengulangan, disetiap pergantian era dalam sejarah selalu ditandai oleh kejadian-kejadian tidak mengenakkan, karena alam ikut berperan serta dalam proses pergantian peradaban seperti paparan diatas soal bagaimana alam semesta mempengaruhi kehidupan manusia. Maka di peristiwa longsornya makam para raja di Imogiri secara spiritual bisa dipersepsikan sebagai Sasmita, atau kode pergantian era yakni runtuhnya Mataram Islam dan kembalinya Mataram Kuno.

Sebagaimana kita baca dibuku-buku, bahwa jauh sebelum era Mataram Islam telah terjadi Mahapralaya (malapetaka hebat) pada tahun 1006 dipercaya pernah terjadi di Pulau Jawa Meskipun sampai hari ini peristiwa tersebut masih menjadi perdebatan para ahli sejarah dengan landasan teori masing-masing.

Baca Juga :  Taktik Pihak Penguasa Sangat Berbahaya, Sebuah Opini Asyari Usman

Tapi saya mengambil jalan tengah, bahwa Mahapralaya itu berupa perang saudara berkepanjangan antara dua wangsa, yakni wangsa Syailendra dan wangsa Sanjaya yang berbeda dalam keyakinan, antara Syiwa dan Buddha. Disisi lain, selain perang saudara berkepanjangan juga terjadi bencana alam hebat yang membuat Jawa Tengah porak poranda. Pada masa itu terjadi peristiwa alam yang luar biasa hebat, yakni gempa bumi yang disusul tsunami serta meletusnya gunung Merapi. Faktor-faktor diatas menyebabkan Mataram Kuno akhirnya menemui keruntuhan (abad ke-7 sampai dengan abad ke-10).

Singkat cerita, karena sebab di atas kemudian Mpu Sindok, keturunan kedua wangsa itu berpindah ke Jawa Timur dan mendirikan wangsa Isyana yang kemudian melahirkan kerajaan Medang dan kemudian menjadi cikal bakal kerajaan besar bernama Majapahit. Yang pada masa-masa surutnya, masuklah peradaban Islam yang digawangi selain oleh para saudagar juga Putri Champa, permaisuri Brawijaya V. Begitu Majapahit surut, kemudian terbitlah era baru dimana keyakinan sebagian masyarakatnya adalah Islam. Kerajaan tersebut adalah Demak Bintara, dengan sistem kesultanan, yang kemudian melahirkan cikal bakal Mataram Islam.

Konon, dalam satu versi yang mungkin tidak tertulis dalam buku-buku sejarah, ada kisah disaat surutnya Majapahit, Putri Champa sang permaisuri dan Brawijaya V serta putrinya yang dikenal dengan sebutan Sabdo Palon Naya genggong bertemu di goa Putri Tuban. Bertiga mereka melakukan perjanjian disaksikan Dahyang Nirartha. Dalam perjanjian itu sang permaisuri meminta agar pulau Jawa diatur berdasarkan tatanan Islam, agama yang diyakini Putri Champa.

Sang raja dan putrinya menyanggupi, tetapi ada syaratnya; jika selama 500 tahun tatanan tersebut tidak membawa kemakmuran bagi seluruh rakyat, maka sang raja dan putrinya akan menuntut balik. Disaksikan Dahyang Nirartha dan semesta alam, perjanjian itu disepakati.

Baca Juga :  Netral, atau Konflik Sosial? Sebuah Opini Tony Rosyid

Maka sering kita dengar dari cerita-cerita para spiritualis tentang Sabdo Palon Naya Genggong nagih janji. Kembali yang dimaksud adalah kembalinya kawruh budi. Kawruh Budi yang dimaksud adalah masyarakat beragama yang berbudi pekerti, saling menghormati, menghargai antar umat beragama, serta menghargai adat budaya leluhurnya, dan menjadi manifestasi Tuhan yang Rahman dan Rahim, yang penuh kasih dan sayang atau welas asih.

Soal sasmitaning alam, telah banyak terpapar di hadapan mata. Tetapi tak banyak yang terbuka mata untuk memahaminya. Tidak mudah memang. Hanya orang yang benar-benar tekun yang bisa mencapainya. Karena seringkali pembicaraan seperti ini ditafsirkan sebagai klenik dan tahayul.

Wong Jawa Nggone Semu, Sinamun ing Samudana, Sesadone Ingadu Manis. Artinya, wong Jawa nggone semu (orang Jawa cenderung semu atau terselubung), sinamun ing samudana (ditutup kata-kata tersamar), sesadone ingadu manis (masalah apa pun dihadapi dengan muka manis). Makna yang lebih luas adalah, berpikir dan bersikapnya orang Jawa tidak selalu terbuka atau cenderung bersifat simbolik. Penuh sanepa, kiasan, dan perlambangan. Banyak hal tidak dinyatakan dengan terang-terangan, atau lebih bersifat sinamudana (disamarkan).

Sehari-hari lekat dengan sanepan, simbol-simbol yang sering jadi kode, karena nitèni (eling atau ingat). Segala kejadian dititeni sebagai kebiasaan dan sasmita (pratanda) pada akhirnya, misal soal pertanda ketika keraton Surakarta terbakar di tahun 1985, Sinuwun Pakubuwono XII kain sinjangnya/jaritnya robek nyangkem kodok. Seperti dilansir majalah Jaya Baya keluaran 1985. Kejadian kain sinjang/jarit sinuwun PB XII yang suwek nyangkem kodok itu ditengarai sebagai pertanda akan datangnya kejadian buruk, yakni kemudian terbakar lah keraton Susuhunan hingga hampir ludes waktu itu. Hal-hal seperti ini barangkali tidak dipahami masyarakat banyak apalagi generasi milenial yang acuannya ke Mbah Google.

“Tak ada kebangkitan tanpa kehancuran, demikian pula tak ada kehidupan tanpa kematian.”

Wallahu a’lam….

Kopi_kir sendirilah!

#kopitalisme #kopilosophi_jawa #Malawu_OmahKopi

Loading...

Baca Juga