oleh

Yudhie Haryono Peringatkan Adanya Jebakan Negara Postkolonial

DETIKFAKTA.ID – Menjelang peringatan 74 Tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Pendiri Nusantara Center, Yudhie Haryono, Ph.D memperingatkan pemerintah dan segenap rakyat Indonesia akan bahaya negara postkolonial.

Hal ini dijelaskannya dalam acara diskusi bertajuk Arsitektur Negara Kolonial bekerjasama dengan Universitas Yarsi, bertempat di Aula Rektorat, Senin (12/8/2019).

“Negara kita sudah merdeka. Maka harus tahu tujuan negara merdeka. Aspek Negara Postkolonial sudah tidak ada dalam diskursus keseharian. Sehingga kita tidak tahu bahwa negara kita negara postkolonial,” jelas Yudhie Haryono.

Selanjutnya ia mengajak para akademisi di universitas agar menghidupkan kembali diskursus tentang negara postkolonial. Dan memberitahu khalayak ramai bahwa masih ada yang peduli dengan diskursus ini.

Baca Juga :  Bupati Pangandaran: Relawan 01 Datangkan 60 Dokter Spesialis

“Kami Mengajak ilmuwan akademisi, dosen dan mahasiswa agar diskursus postkolonial dihidupkan kembali. Selain itu, kami ingin menyampaikan khalayak. Bahwa ada sebagian diantara kita yang memahami dan mengerti ingin mereaktualisasikan negara postkolonial. Agar tidak seperti sekarang,” tambah Yudhie Haryono.

Kemudian ia memperingatkan kepada elite dalam hal ini pemerintah agar kembali kepada konstitusi.

“Memperingatkan yang ada di Indonesia kembali ke jati diri, konstitusi dan Pancasila. Karena hakikat bernegara adalah berkonstitusi yaitu sasarannya warga negara dan elite negara,” cetus Yudhie Haryono.

Ia juga menambahkan dan menilai negara ini telah mengkhianati konstitusi dengan menyerahkan public policy ke pasar.

“Kita telah jauh meninggalkan konstitusi, memberikan public policy kepada market dan itu mengkhianati konstitusi, diingatkan kepada design awal negara ini dimerdekakan yaitu negara harus hadir dalam wilayah wilayah publik” tambahnya.

Baca Juga :  Proyek Meikarta, Landasan Baru Pencucian Uang

Sebagai penutup Yudhie Haryono berharap agara upaya yang ia inisiasikan dapat menjadi bola salju yang berkembang menjadi kesadaran berbangsa dan bernegara.

“Harapannya berkembang menjadi bola salju, dari satu kampus dan satu pertemuan menjadi kesadaran umum, kesadaran bersama bahwa berbangsa dan bernegara adalah merealisasikan apa yang tertulis dalam Konstitusi dan Pancasila,” tutupnya. (RYO)

Loading...

Baca Juga