oleh

Yang Sangat Merendahkan, Pak Prabowo Disuruh Antri ke Istana

Yang Sangat Merendahkan, Pak Prabowo Disuruh Antri ke Istana. Oleh: Asyari Usman, Wartawan Senior.

Begini kawan-kawan yang tak setuju dengan saya tentang Pak Prabowo menjadi menteri Jokowi. Ada satu hal yang sangat melecehkan sekali. Itulah yang dilakukan oleh Jokowi terhadap Prabowo. Disadari atau tidak oleh keduanya.

Menurut saya, Jokowi tidak perlu memanggil Prabowo datang ke Istana seperti calon-calon menteri lain. Tidak perlu diperlakukan seperti Jokowi memanggil Nadiem Makarim atau Wishnutama dan para menteri yang masih tergolong milenial.

Membariskan Pak PS sama seperti mereka yang berpolitik pun belum pernah, sangatlah tidak pantas. Tidak bijak. Meskipun Jokowi mungkin melakukan itu dengan tujuan agar semua sama rata.

Baca Juga :  Menuntut Keadilan dan Transparansi Pengelolaan Jalan Tol

Pak PS itu mendapat suara 45% di pilpers (versi hitungan sesuka hati penguasa). Dia bukan Tsamara Amany. Bukan Dahnil Anzar. Bukan Andre Rosiade atau Fadli Zon. Prabwo itu “pemenang pilpres versi jurdil”.

Apakah tidak ada politisi senior di kubu Istana yang paham itu? Yang paham supaya Pak PS tidak diperlakukan sama dengan calon-calon menteri lain? Pasti ada. Tak mungkin tidak ada seorang pun yang berpikir bahwa memanggil PS ke Istana itu sangat tidak arif. Tidak pantas. Tapi, kenapa Pak PS tetap disuruh berbaris di dalam antrian interview?

Bisakah Anda selami apa yang ada di benak mereka? Bagi saya, dipanggil ke Istana seperti calon-calon menteri “anak kemarin sore” itu sengaja dilakukan untuk semakin merendahkan Prabowo.

Baca Juga :  Yudhie Haryono Peringatkan Adanya Jebakan Negara Postkolonial

“Oh, itu ‘kan tidak masalah, Bang.”

Bagi Anda tidak masalah. Bagi saya, itu sangat besar pelecehannya. Tidak etis. Jokowi bukan setahun dua tahun kenal Prabowo. Yang membawa Jokowi ke DKI itu, Pak Prabowo.

Mahfud MD saja, menurut saya, tidak perlulah dipanggil. Apalagi Pak Prabowo. Cukuplah pakai telefon.

“Enggak apa-apa itu Bang. Itu ‘kan strategi .”

Yah, sudah. Kita berbeda dalam cita etika.

Loading...

Baca Juga