oleh

Sebuah Novel Futuristik: Sutan The President

Sebuah Novel Futuristik: Sutan The President (Misteri Pena Berkepala Naga Emas). Oleh: Indra Adil, Penulis.

Edison Sinaro, Gelar Sutan Marajo, seorang mantan aktivis mahasiswa 77/78, anak Minang Betawi dari pinggiran Jakarta di bilangan Utan Kayu. Masa kecilnya berkelindan di Ibu Kota. Sejak SR di SR Percobaan Menteng, SMPN 2 Budi Utomo sampai di SMAN 1 Boedoet yang dikenal sebagai anak Yahud, ia tak pernah keluar jauh dari wilayahnya. Tetapi sejak kebangkrutan usaha konsultan pertaniannya di Bogor, yang membuatnya menganggur, tiba-tiba saja ia ditawarkan bekerja di Kedutaan Besar RI di London, oleh sobat lama semasa SMA.

Di London, tiba-tiba saja ia beralih menjadi Guru Silat Minang Ternama, yang mengundang minat seorang Wakil Ketua Military Intelegent 5 (MI 5) Inggris, Stephen Seagull, untuk menjadi murid perguruannya. Tiba-tiba saja pula ia secara tidak langsung, terlibat Konspirasi Pembunuhan Selebritis Nomor 1 Dunia, Puteri Diana, karena pada saat yang sama, ternyata Stephen Seagull adalah Kepala Tim Pembunuhan Lady Di (baca novel “The Lady Di” Conspiracy).

Setelah pembunuhan Puteri Diana berjalan sukses, Boas Tanga yang menjadi kambing hitam pelenyapan tokoh-tokoh Intelejen 4 negara (AS, Rusia, China dan Israel) di Tel Aviv, kabur dari penjara Mossad dibantu teman-teman agen Mossad yang bersimpati terhadapnya. Ia melarikan diri ke Inggris, untuk meminta bantuan Stephen Seagull yang bahkan bertemu muka pun belum pernah, karena selama Tim Pembunuhan Diana bekerja, di mana Boas Tanga adalah pelaksana lapangan dari Mossad, ia hanya berhubungan melalui pelaksana lapangan MI 5, Maxwell Philips.

Tragisnya, justru Boas Tanga sendiri yang mendapat tugas melenyapkan Maxwell atas perintah Mossad, agar pembunuhan Lady Di tidak terbongkar dengan mudah. Begitulah “hukum” di dalam dunia intelejen, semakin sedikit saksi hidup, semakin sulit suatu pembunuhan terpecahkan. Dampak dari “Domino Theory” dalam “Hukum Pembunuhan” di dunia intelejen.

Tentu saja Stephen, yang saat itu baru pensiun sebagai Wakil Kepala MI 5, berusaha membantu Boas Tanga, yang akhirnya justru melibatkan Stephen menjadi buruan tambahan Mossad agar Konspirasi Pelenyapan Puteri Diana tidak tersebar. Ini pula yang menyebabkan Sutan menjadi “Master of Suddenly”, karena tiba-tiba saja ia juga menjadi target buruan Mossad.

Akhirnya, atas bantuan sobat Sutan, Duta Besar Indonesia di Inggris, ketiganya melarikan diri ke Indonesia, dan terlibat dalam kemelut perpolitikan di Indonesia, yang tak bisa dipisahkan dari perpolitikan internasional (tunggu terbitnya “Boas Tanga, The Mossad Agent”). Di dalam novel “The President” ini, Sutan melengkapi statusnya sebagai “Master of Suddenly”, karena secara tiba-tiba ia menjadi Presiden Republik Indonesia Periode 2019-2024, setelah selamat dari buruan Mossad. Sutan, menjadi Presiden Republik Indonesia atas jasa bahkan permintaan seorang Taypan dari Aceh, yang keluarganya secara turun temurun telah menjadi penduduk Indonesia, sejak lebih dari 600 tahun yang lalu.

Baca Juga :  Iptu Abdul Muis, Polisi Korban Kekerasan Mahasiswa di Makassar

Ia seorang Taypan keturunan Tokoh Legendaris Penakluk Dinasty Yuan Mongol, Thio Boe Ki. Thio Boe Ki adalah Ketua Sekte Ming, sekte yang memimpin pemberontakan terhadap Dinasty Yuan Mongol dan sukses menggulingkannya. Tetapi Boe Ki melepaskan kesempatan menjadi Kaisar Ming Pertama dan memilih mengasingkan diri ke Utara, wilayah tradisional kekuasaan Perguruan Silat Bu Tong Pay.

Dinasty Ming adalah Dinasty yang merintis pembuatan “peta dunia pertama” yang paling akurat saat itu, yang merupakan karya terbesar Laksamana Cheng Ho yang sekaligus merupakan tokoh legendaris Laksamana Akbar pelaksana 7 Expedisi Bahari Terbesar di dunia, jauh melebihi Expedisi Marcopolo yang melegenda itu. Bersama armada Cheng Ho-lah, moyang Taypan ini tiba di Palembang dan menetap cukup lama untuk menghindari pengejaran Kaisar Ming saat itu. Perlu dipahami, Cheng Ho adalah personifikasi aktual dari dongeng Timur Tengah, SINBAD. Nama asli Cheng Ho adalah San Bao.

Di bulan Juli tahun 2023, beberapa bulan sebelum Pilpres 2024, pada suatu Sidang Kabinet, Wakil Presiden Djoko Sampurno mendadak meninggal secara misterius tanpa diketahui sebab-musababnya. Seorang Polisi cerdas, Komisaris Polisi Firman Muntako, ditugaskan khusus oleh Kapolri untuk membongkar kasus rumit ini.

Masalahnya saat itu negara dalam keadaan aman dengan kehidupan ekonomi, sosial dan politik yang sangat kondusif. Ekonomi menunjukkan kesehatan yang luar biasa dengan struktur sosial yang jauh lebih merata sejak Indonesia Merdeka, akibat ketetapan pemerintah yang mewajibkan seluruh perusahaan besar memberikan saham sebesar 30 % kepada seluruh “stake holder”-nya. Otomatis setiap tahun seluruh pegawai dan buruh perusahaan apapun, menerima deviden dari perusahaannya.

Dengan demikian, situasi sosial terhindar dari kecemburuan sosial yang bisa membuat pertentangan antara kelas ataupun kecemburuan sosial antar etnis. Dan lebih penting lagi, roda ekonomi berjalan dengan cepat dan stabil karena uang beredar merata di setiap lini struktur sosial. Situasi politik juga sangat kondusif setelah pemerintah merubah disain demokrasi yang memberikan peluang bagi masyarakat non parpol untuk bisa ikut berpolitik melalui Wakil Independen serta menyederhanakan jumlah parpol menjadi 5 (sesuai Sila dalam Pancasila), sekaligus menghilangkan “kedinastian” dalam struktur parpol.

Baca Juga :  Teater 4D Owabong Putar Film Pendidikan Ayu Anak Titipan Surga

Semua hal di atas menutup motivasi politik untuk pembunuhan terhadap Wapres, apabila kematian tersebut memang akibat pembunuhan. Satu hal lain yang bisa menggiring pemikiran ke arah pembunuhan adalah motivasi keluarga, tetapi sangat sulit dibuktikan, karena Wapres berasal dari keluarga besar berdarah biru yang sangat harmonis.

Sementara kesehatan Wapres saat kematiannya menunjukkan kondisi yang sangat prima. Presiden dan Kompol Firman hampir mengalami jalan buntu dalam pengungkapan sebab musabab kematian Wapres. Beruntung, terselamatkannya “fulpen misterius” yang sebelum sidang dibagikan oleh petugas Rumah Tangga Istana kepada peserta sidang yang seluruhnya adalah pejabat tinggi pemerintah (Presiden dan Wapres beserta Anggota Kabinet), memberi harapan ke arah pengungkapan pembunuhan.

Fulpen misterius tersebut adalah bagian dari fulpen hadiah Menko SDA dan Energi yang merayakan Hari Ulang Tahun ke 75, dengan membagikan “fulpen unik berkepala naga emas” senilai 10 juta rupiah per buah. Fulpen ini khusus dibagikan hanya kepada seluruh Anggota Kabinet Adil Makmur. Pelaksanaan pembuatan dan pembagian fulpen unik hadiah Ultah Menko SDA dan Energi ini dikoordinir oleh Menteri Perindustrian RI.

Fulpen tersebut terjatuh ke lantai saat digunakan oleh Wapres yang secara tiba-tiba terkulai lemas, dan alpa dari perhatian siapapun yang hadir, hingga diketemukan oleh seorang pegawai Rumah Tangga Istana yang berkeinginan memilikinya karena keunikan fulpen tersebut.

Pegawai RTI bersangkutan ternyata adalah Ketua “The Three Musketeers”, sebuah organisasi informal pelajar SMA Negeri 1 Tenggarong yang dikenal sebagai pembela masyarakat yang teraniaya. Namanya Jose Rizal Marassabesy dengan 2 anggota lain yaitu Frederick Tabani yang masih cucu Pahlawan Nasional RI dari Papua, Silas Papare, dan Syarifudin Wangkang, keturunan Panglima Demang Wangkang, Komandan Pasukan Dayak Bakumpai, yang merupakan rumpun Dayak Ngaju yang menyerang Benteng Belanda di Marabahan, Kalimantan Selatan pada abad ke 19 yang silam.

Baca Juga :  Dokumen Perizinan Meikarta Terindikasi Backdate

Jose tanpa menyadari pentingnya arti fulpen misterius tersebut sebagai barang bukti dari kematian misterius Wapres, membawa fulpen tersebut untuk dipamerkan kepada para Musketeers (julukan untuk seluruh siswa SMAN 1 Tenggarong) dalam masa cutinya di Tenggarong. Ketidak tahuannya ini mengundang dua orang pembunuh bayaran ke Tenggarong, guna merebut fulpen tersebut dari tangan Jose Rizal, untuk kemudian memusnahkannya.

Meskipun kedua pembunuh bayaran profesional ini menggunakan senjata api, ternyata tiga tokoh Musketeers bertangan kosong ini, mampu mempertahankan fulpen tersebut dari usaha perampokan. Bahkan dari dua pembunuh bayaran ini seorang terbunuh oleh Frederick Tabani dan seorang lagi tertawan oleh Syarifudin Wangkang yang dijuluki si botak oleh teman-teman Musketeers-nya. Tetapi keberhasilan mempertahankan fulpen misterius tersebut, harus ditebus dengan nyawa Jose Rizal yang tertembak dan tewas, dalam kondisi masih tetap menggenggam fulpen tersebut sampai akhir hayat.

Apakah motivasi pembunuhan Wapres dan siapakah yang sangat berkepentingan terhadap kematian Wapres? Bagaimana cara alat pembunuh bekerja dan bagaimana alat itu bisa lolos masuk Sidang Kabinet RI tanpa terdeteksi perangkat pemindai senjata? Siapakah Taypan penemu Capres Sutan -yang ternyata sukses memimpin Negara RI- dengan pencapaian spektakuler swa sembada beras hanya dalam waktu 3 tahun, pengumpulan modal awal pemerintahan yang hampir bangkrut tanpa melalui hutang hanya dalam waktu 6 bulan, peningkatan kesejahteraan rakyat hanya dalam jangka waktu 2 tahun, penyempurnaan demokrasi menjadi “demokrasi yang sesungguhnya” dalam waktu 1 tahun dan menjadi negara yang berdaulat penuh dalam waktu sekejap setelah pelantikan Presiden?

Bagaimana presiden Sutan menghadapi tekanan Presiden China Xi Jin Ping akibat pengusiran TKA China ilegal yang sudah masuk Indonesia tanpa terkontrol dan bagaimana cara Presiden Sutan memindahkan para Taypan penghisap kekayaan SDA Indonesia kembali ke China tanpa mengusirnya? Apa peran Komunitas Global Hoakiau Terbesar di dunia, Teochiu dalam memback-up Presiden Sutan dari tekanan Pemerintahan China Komunis? Bacalah Buku Ketiga Trilogi Sutan ini sambil menikmati kopi di pagi hari akhir pekan. Jangan lupa, nikmati percintaan unik 2 insan berlainan jenis, agama dan etnis yang setelah melalui pertempuran intelektual berkelas, berlabuh pada rumah tangga harmonis. Selamat menikmati…

Loading...

Baca Juga