oleh

Suami Dikeroyok Malah Jadi Tersangka, Istri Lapor ke Propam Polda Jabar

DETIKFAKTA.ID – WN istri korban pengeroyokan ditemani majikan suaminya melapor ke Bid Propam Polda Jabar, Selasa (14/1/2020). Ia mencari keadilan untuk kebebasan suaminya yang saat ini ditahan di Lapas Sumedang,

WN diterima oleh petugas Unit Yanduan Bid Propam Polda Jabar, menceritakan kronologi kejadian dan membeberkan apa yang dirasakan soal ketidakadilan yang dialami oleh suaminya.

Kepada sejumlah awak media WN menyampaikan, suaminya adalah korban pengeroyokan oleh D alias B dan temannya yang jelas dikeroyok pada dini hari, Minggu 24 November 2019 silam di kampung Tarikolot, Desa Sindang Pakuwon, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang.

“Kenapa suami saya yang harus ditahan? Memang betul suami saya melawan D dan teman-temannya. Tapi itu kan beladiri. Karena didatangi di kios tempat jualannya oleh D dan temannya. Harusnya suami saya ini korban,” ujarnya.

Baca Juga :  Polresta Kediri Apel Gelar Pasukan Dalam Rangka Operasi Mantap Brata

Menurut WN, akibat pengeroyokan tersebut, suaminya mengalami luka yang cukup parah di kepala dengan 9 jahitan, sedangkan pelaku mengalami luka di telapak tangannya oleh perlawanan korban.

Ditambahkan WN, sejak awal dirinya tidak pernah mendapatkan SP2HP (Surat Permintaan Pemberitahuan Hasil Penyidikan), dan meminta agar suaminya dibebaskan karena sebagai korban.

Sementara itu di ruangan Unit Yanduan Bid Propam Polda Jabar, salah satu petugas menyampaikan bahwa WN harus mendapatkan dulu surat kuasa dari R agar pelaporannya segera diproses.

WN pun menyayangkan akan keputusan yang terkesan diduga tanpa proses penyidikan dahulu dengan status tersangka yang diberikan kepada R (suaminya) pada masa kepemimpinan Kompol Kuswanto SH selaku Kapolsek Cimanggung.

Baca Juga :  SD Negeri 01 Cahaya Mas Lampung Utara Nyaris Ambruk

Sebagai anggota masyarakat yang tidak paham soal hukum, WN merasa heran dengan ditahannya suaminya. Ia yakini sebagai korban pengeroyokan, sementara pengeroyoknya tidak ditahan dengan alasan mengalami luka di tangan yang parah.

Padahal, lanjut WN, kedua belah pihak sudah terjadi proses mufakat untuk berdamai secara kekeluargaan di kantor desa Sindang Pakuwon. Proses ini disaksikan oleh aparat desa dan kedua belah pihak.

“Kenapa sudah ditandatangani secara hitam di atas putih dan dibubuhi materai (untuk berdamai) tapi kok masih saja suami saya ditahan? Saya memang bodoh dan awam soal hukum, tapi saya ingin keadilan. Karena saya tetap yakin suami saya tidak bersalah dan sebagai korban,” tandasnya. (ANW)

Baca Juga :  Sekjen GPI Desak KPU Untuk Mendiskualifikasi Partai Koruptor Dari Peserta Pemilu 2019
Loading...

Baca Juga