oleh

New Normal yang Abnormal. Opini Ulfa Novitamala

New Normal yang Abnormal. Oleh: Ulfa Novitamala, Aktivis Muslimah Ideologis.

Penambahan jumlah kasus positif Covid-19 sampai dengan 20 Juni 2020 masih sangat tinggi, yaitu 1.226 kasus baru, sehingga total menjadi 45.029 kasus yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia (covid-19.go.id).

Kasus Covid-19 di sejumlah provinsi pun belum sampai pada tahap aman. Para ahli epidemiologi mengkritik keras kebijakan new normal atau kenormalan baru yang dilakukan pemerintah karena tingkat risiko penularan sebenarnya masih sangat tinggi. Kurva pertumbuhan kasus Covid-19 di Indonesia belum mencapai puncak. Dengan demikian, Indonesia masih jauh dari akhir pandemi. Tepatkah kebijakan ini diterapkan di Indoneesia yang kasusnya masih sangat tinggi? Kebijakan ini sebenarnya untuk siapa?

700 Covid DF

Pembukaan bertahap di masa transisi menyongsong new normal atau kenormalan baru sudah mulai dilakukan sektor pariwisata DKI Jakarta. Berkaca pada kondisi sekarang, tentu ada sederet penyesuaian dalam praktiknya yang mengarah pada implementasi protokol kesehatan (liputan6.com, 20/6/2020).

Negara lain (swedia, Korsel, jerman) melonggarkan restriksi sosial, setelah angka kasus jauh menurun. Sedangkan Indonesia belum mencapai tahap tersebut. Bahkan menurut ahli, Indonesia dianggap belum mencapai puncak pandemi krn belum maksimal tes massif. Ditambah belum ada kesiapan masyarakat dengan pola kesehatan yang baik menghadapi wabah.

Pemerintah memaksakan kebijakan ini dengan pengerahan TNI yang bisa berdampak negatif terhadap kehidupan sosial masyarakat. Fakta di lapangan selama beberapa hari diberlakukannya new normal, masyarakat masih terlihat kurang disiplin, sudah tidak terlalu memperhatikan aturan social distancing, dan sebagian masyarakat sudah tidak memakai masker ketika keluar rumah.

Baca Juga :  Soal Uigur, Zeng Wei Jian Termakan Propaganda China Komunis

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, sebagian masyarakat dalam hal literasi masi tergolong rendah. Mereka kurang paham soal virus Covid-19, tidak melek fakta, tidak paham bagaimana hal ihwal kasus Covid-19 itu sebenarnya seperti apa.

Kedua, banyaknya hoaks atau rumor yang menyangsikan apakah benar Covid-19 ini adalah virus berbahaya. Akibatnya sebagian masyarakat tidak bisa membedakan mana informasi yang benar dan mana yang salah.

Ketiga, euforia. Masyarakat yang sudah merasa “terkekang” di dalam rumah karena kebijakan pembatasan sosial atau social distancing merasa sangat jenuh. Kebijakan new normal ini dianggap angin segar dan menjadi momen “kemerdekaan beraktivitas” bagi sebagian orang.

700 Covid DF

Semua faktor ini jika tidak dibarengi dengan kewaspadaan tinggi dan masyarakat yang semakin abai, dampaknya akan sangat berbahaya. Kita pun perlu berkaca dari pengalaman negara lain seperti Korea Selatan yang terpaksa menutup sekolah setelah satu pekan dibuka, kasus positif covid-19 meningkat lagi.
Jangan sampai akibat kebijakan new normal ini seperti kasus bencana “tsunami” (meskipun hanya perumpamaan).

Ketika air laut surut dan ikan-ikan kemudian bermunculan di sekitaran pantai, orang-orang berduyun-duyun dan mendekat ke pantai mengambil ikan-ikan dengan perasaan sangat gembira. Tak memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya dan tanpa dibarengi dengan pemahaman yang baik tentang tanda-tanda tsunami. Akhirnya, beberapa menit kemudian air yang tinggi datang seketika melumat orang-orang itu dan juga semua yang ada tak pandang bulu.

Baca Juga :  Setelah Romy Tertangkap KPK, Bagaimana Nasib PPP.?

Demikian juga dengan bahaya Covid-19 ini. Jangan sampai kebijakan new normal (yang sebenarnya abnormal) ini menjadi pintu baru ancaman meluasnya penularan Covid-19 karena ketidakdisiplinan masyarakat Indonesia masih menjadi pekerjaan berat kita.

Kita tentu tak menginginkan Indonesia “panen corona” akibat new normal. Atau justru kurva penularan Covid-19 mencapai puncaknya setelah kebijakan ini.

Melihat geliat Pemerintah memberlakukan new normal ini, semakin jelas bahwa kebijakan dikendalikan oleh kapitalis, bukan didasarkan pertimbangan kemaslahatan publik yang didukung sains dan suara publik

New-Abnormal
Belajar dari sejarah, penerapan hukum-hukum Barat sekular atas kaum Muslim di seluruh dunia ada dua faktor penyebabnya. Pertama: Faktor internal, yakni kemunduran Khilafah Utsmaniyah hingga berakhir dengan keruntuhannya. Kedua: Faktor eksternal, yakni kebangkitan Barat dengan Kapitalisme-sekularnya yang dibarengi dengan nafsu penjajahannya atas dunia, khususnya Dunia Islam. Penjajahan Barat tak hanya bermotif ekonomi (menguras kekayaan negara-negara jajahan). Penjajahan Barat juga bertujuan politik, yakni penyebaran dan penerapan akidah sekularisme—dengan kapitalisme dan demokrasinya—atas dunia, khususnya Dunia Islam. Selebihnya, penjahahan Barat juga dimanfaatkan untuk memuluskan misi kristenisasi di negara-negara terjajah, khususnya di Dunia Islam. Karena itulah penjajahan Barat identik dengan gold, glory dan gospel.
Sayang, ketidaknormalan (abnormalitas) kehidupan kaum Muslim yang telah berlangsung nyaris satu abad ini tak banyak disadari oleh umat Islam sendiri. Seolah-olah hidup di bawah naungan Kapitalisme global saat ini adalah normal.

Baca Juga :  Simalakama Dibukanya Pasar di Tengah New Normal yang Membuat Gusar

Padahal jelas, bagi kaum Muslim, kehidupan saat ini adalah kehidupan yang tidak normal. Karena itu jika pasca karantina, bahkan pasca Corona, kaum Muslim tetap berkutat dengan tetap menerapkan sistem kapitalisme-demokrasi—maka mereka sesungguhnya sedang menuju ‘new-abnormal’ (ketidaknormalan baru). Pasalnya, kehidupan pasca Corona akan jauh lebih buruk. Sebabnya, Kapitalisme global telah gagal. AS sebagai kampiun negara kapitalis adalah contoh terbaik dalam hal ini.

Boleh jadi, pasca Corona, AS dan Eropa sesungguhnya sedang menuju ‘new-abnormal’. Bukan new-normal. ‘New-Abnormal’ ini sangat mungkin dialami oleh banyak negara di dunia. Termasuk negeri ini. Apalagi pasca Corona, banyak pengamat memprediksi bakal terjadi resesi global yang jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan berbagai krisis yang pernah dialami dunia sebelumnya.

Saatnya Kembali ke Ideologi Islam
Adapun ideologi Islam dasarnya adalah akidah Islam. Akidah Islam meyakini keberadaan Tuhan (Allah SWT) sekaligus mengakui bahwa Dialah satu-satunya yang memiliki otoritas untuk mengatur kehidupan manusia dengan syariah-Nya (QS al-An’am [6]: 57). Manusia hanya sekadar pelaksananya saja.
Alhasil, dunia yang normal sesungguhnya adalah dunia yang diatur hanya oleh syariah Islam. Karena itu bagi kaum Muslim, new-normal adalah saat mereka kembali ke pangkuan ideologi Islam, yakni saat mereka kembali menerapkan syariah Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Bukan malah mempertahankan sekularisme-kapitalisme.

700 Covid DF
Loading...

Baca Juga