DETIKFAKTA.ID– Holding Danantara dan Koperasi Merah Putih mengalami persaingan ketat dengan dinamika ekonomi lebaran yang terus berkembang pesat di pedesaan. Tradisi ini telah berlangsung sejak awal abad ke-20 ketika kaum Muslim Indonesia mulai menggagas gerakan ekonomi berbasis koperasi dan organisasi Islam, seperti Syarikat Dagang Islam yang diprakarsai oleh H.O.S. Cokroaminoto dan H. Samanhudi.
Gerakan ini bukan sekadar inisiatif lokal, melainkan memiliki dampak yang luas hingga tingkat nasional dan bahkan internasional. Begitu kuatnya pengaruh ekonomi berbasis komunitas ini sehingga Belanda, yang saat itu menguasai Indonesia, merasa perlu memberikan kebijakan politik tertentu kepada bangsa Indonesia di parlemen Hindia Belanda. Puncaknya terjadi saat Agresi Militer Belanda tahun 1947, ketika tekanan dari masyarakat Muslim menyebabkan Belanda harus melaksanakan Salat Idulfitri di Tugu Proklamasi. Selain itu, gerakan ini juga berhasil mendorong pemberian modal keuangan negara sebesar Rp500 juta kepada NKRI, termasuk bantuan ekonomi bagi masyarakat di Aceh dan Riau.
Menurut pengacara senior dan praktisi hukum, Elvan Gomes, fenomena ekonomi lebaran membuktikan diri sebagai model ekonomi yang lebih efektif dibandingkan Holding Danantara maupun Koperasi Merah Putih.
“Setiap kali lebaran tiba, kita menyaksikan kecerdasan masyarakat dalam membagi kesejahteraan secara alami di lingkungan kampung halaman mereka. Ini adalah bukti nyata bahwa sistem ekonomi berbasis komunitas jauh lebih kuat dibandingkan sistem korporasi yang tersentralisasi,” ujarnya. Dalam pesan tertulis Rabu (2/4/2025).
Elvan Gomes menekankan bahwa pemerintah dan koperasi nasional harus segera bertindak untuk mengoptimalkan potensi ekonomi lebaran dengan membentuk gerakan obligasi nasional.
“Pemerintah harus mengambil inisiatif dengan mewajibkan konglomerat dan pengusaha yang beroperasi di Indonesia untuk berinvestasi dalam obligasi ini. Selain itu, nasionalisasi tambang dan hutan harus segera dilaksanakan, seperti yang tengah dikerjakan oleh Satgas saat ini,” tegasnya.
Lebih jauh, Elvan Gomes juga menyoroti pentingnya kembali ke sistem ekonomi yang berlandaskan UUD 1945 asli.
“Pengembalian ekonomi nasional ke jalur yang benar sesuai dengan konstitusi adalah langkah fundamental. Ini bukan sesuatu yang sulit, cukup dengan menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) atau Peraturan Presiden (Perpres).
Dengan langkah tersebut, Indonesia tidak perlu menunggu lebih lama untuk menjadi negara emas, karena kesejahteraan dan kecerdasan rakyat telah terbukti sebagai modal utama dalam membangun negeri,” pungkasnya.
Dengan sejarah panjang dan potensi besar yang telah terbukti, gerakan ekonomi lebaran bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan sebuah konsep yang bisa menjadi kunci utama dalam membangun kemandirian ekonomi nasional. (ANW)






