DETIKFAKTA.ID — Lahan pertamanan yang seharusnya menjadi ruang hijau dan tempat warga beraktivitas, kini berubah fungsi menjadi lokasi parkir mobil-mobil sampah dan depo kontainer. Kondisi ini menuai protes keras dari masyarakat dan memunculkan dugaan adanya permainan antara pejabat dan oknum di lapangan.
“Ini bukan sekadar soal parkir. Ini pelecehan terhadap fungsi ruang publik. Warga marah, karena lahan yang harusnya jadi ruang hidup malah dijajah kendaraan angkut sampah dan kontainer,” tegas H. Dali Madali, penggiat mediasi sosial. Dalam pesan tertulisnya (13/6/2025).
Menurut H. Dali, aktivitas parkir mobil sampah dan penempatan kontainer di lahan pertamanan sudah berlangsung cukup lama dan terjadi secara terang-terangan. Pemandangan deretan mobil dinas dan kontainer di area yang mestinya ditanami pohon dan dirawat sebagai taman membuat warga geram.
“Mobil-mobil itu bukan milik warga. Itu mobil operasional. Artinya, ada sistem yang membiarkan ini berjalan. Kalau terus dibiarkan, ini bisa jadi skandal wilayah!” tegasnya.
Warga sebenarnya telah memberi ruang kepada para pemangku wilayah — dari RT, RW, Lurah, LMK, FKDM, Dewan Kota, Camat, hingga Asisten Kota — yang menyatakan komitmennya mencari solusi. Bahkan, rencana aksi protes massal sempat ditunda sebagai bentuk penghormatan terhadap upaya mediasi.
Namun, jika situasi ini terus berlangsung tanpa penertiban dan pengembalian fungsi lahan ke peruntukan semula, warga memastikan akan kembali bergerak.
“Penundaan aksi bukan berarti persoalan hilang. Ini hanya jeda. Kalau taman terus dipakai sebagai garasi mobil sampah dan depo kontainer, warga akan turun dengan tuntutan yang lebih besar — bahkan bisa meluas!” ujar Dali.
Masyarakat kini tengah mempersiapkan dokumentasi visual dan kronologi lengkap untuk dibawa ke media dan lembaga pengawas tata kelola wilayah.
“Kami akan kawal terus. Ini bukan tentang estetika, ini soal hak lingkungan hidup yang layak. Jangan jadikan lahan hijau sebagai korban kepentingan segelintir orang,” pungkasnya. (ANW)




