DETIKFAKTA.ID– Isu rencana pemberian Nobel Perdamaian kepada mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membetot perhatian publik dunia. Pro dan kontra pun mencuat, memantik perdebatan tajam di arena politik global.
“Ini bukan sekadar wacana, tapi sudah jadi polemik global. Ada dua kutub pendapat yang sangat bertolak belakang,” dalam pesan tertulis, Kolonel Dedy Yulianto, pengamat politik global sekaligus Analis Humas Kementerian Pertahanan RI Jumat (12/7/2025).
Menurut Dedy, pihak yang mendukung menyandarkan argumentasi pada keberhasilan Trump menggagas dan memediasi Abraham Accord—kesepakatan yang menjadi tonggak normalisasi hubungan antara Israel dan sejumlah negara Arab.
“Selama masa kepemimpinannya, Trump berhasil menjadi perantara penting dalam pembukaan jalur diplomatik yang selama puluhan tahun buntu. Itu bukan pencapaian kecil,” tegasnya.
Namun, tak sedikit pula yang menolak keras. Mereka menyoroti kebijakan Trump yang dianggap kontradiktif dengan semangat perdamaian. “Slogan ‘America First’, perang dagang yang memicu ketegangan internasional, serta retorika politik yang cenderung provokatif, jadi alasan utama penolakan dari berbagai negara, NGO internasional, dan aktivis perdamaian,” jelas Dedy.
Meski demikian, harapan Trump meraih Nobel belum sepenuhnya pupus. Kuncinya, menurut Kolonel Dedy, adalah menghidupkan kembali Abraham Accord sebagai instrumen strategis menuju perdamaian permanen antara negara-negara Arab dan Israel, termasuk solusi konkret atas konflik Palestina.
“Kalau Trump serius mengejar Nobel, maka Abraham Accord harus dijadikan kunci untuk menciptakan peta damai yang utuh di kawasan Timur Tengah. Ini bukan soal popularitas, tapi warisan sejarah,” pungkas Dedy. (ANW)






