DETIKFAKTA.ID— Gelombang keresahan masyarakat Jakarta Utara kembali memuncak setelah Komite Selamatkan Rakyat Jakarta menggelar pertemuan lanjutan seusai konsolidasi sebelumnya di Rusun Kampung Bayam, Papanggo, Tanjung Priok. Pertemuan tersebut mempertemukan berbagai unsur masyarakat akar rumput yang selama ini konsisten mengawal nasib PJLP dan PPSU.
Hadir dalam forum itu sejumlah tokoh penting, di antaranya Bg Eki Aktivis 98, Munawar, Franky Ketua Ormas Bang Japar, H. Dali Madali tokoh Utara, Gamz Priok Bersatu, Hendry Aktivis Penjaringan, Ifiet dan Franky KomJu, Jack SMJU, Didi Aktivis Marunda, serta perwakilan kawan-kawan PJLP dari berbagai wilayah.
Dari pertemuan tersebut, Komite Selamatkan Rakyat Jakarta menyepakati sebuah langkah tegas:
pada Rabu mendatang, rombongan akan menuju Kantor Wali Kota Jakarta Utara untuk mengantar “sepucuk surat cinta” kepada Gubernur DKI Jakarta.
Namun “surat cinta” ini bukan sembarang surat. Isinya adalah jeritan, kegelisahan, dan tuntutan keadilan dari mereka yang merasa usia dijadikan alasan untuk dibuang, padahal mereka telah bertahun-tahun bekerja di garis depan pelayanan publik.
Di dalam surat itu, komite menyampaikan permohonan resmi kepada Gubernur DKI Jakarta, yang memuat empat poin utama:
- Merevisi KepGub No. 1095 Tahun 2022 agar selaras dengan PP No. 45 Tahun 2015 tentang batas usia pensiun.
- Mengubah masa kontrak kerja dari 1 tahun menjadi 3 tahun, demi kepastian kerja dan hidup para PJLP dan PPSU.
- Memberikan Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Pensiun (JP) kepada seluruh pekerja PJLP dan PPSU.
- Karena masa penerimaan PJLP dan PPSU sudah sangat dekat, komite memohon agar Gubernur segera mengeluarkan Surat Edaran yang memberi kesempatan kepada pekerja berusia 56 tahun untuk tetap melamar kembali, tanpa didiskriminasi.
Koordinator Komite Selamatkan Rakyat Jakarta, Ade Glanter, menyampaikan bahwa surat ini merupakan bentuk akumulasi dari kepedihan dan harapan yang terlalu lama dibiarkan menggantung.
“Ini bukan sekadar kertas. Ini suara rakyat yang merasa dipinggirkan karena usia. Rabu besok kami datang dengan tertib, tapi tegas. Kami ingin Gubernur mendengar langsung denyut hati rakyatnya,” ujar Ade Glanter. Melalui pesan tertulisnya, Selasa Pagi (18/11/2025).
Ia menegaskan bahwa komite lahir bukan dari kepentingan politik, tetapi dari panggilan untuk membela mereka yang bekerja membersihkan jalan, menguras saluran, dan menjaga wajah Jakarta tetap layak dihuni.
“Ketika janji tak lagi ditepati, rakyat berhak mengingatkan. Surat cinta ini adalah cara kami mengetuk nurani pemimpin,” tambahnya.
Rombongan komite dijadwalkan bergerak bersama tokoh masyarakat, aktivis, dan para PJLP untuk mengantarkan surat tersebut secara resmi, sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan yang dirasakan para pekerja lapangan. (ANW)






