oleh

Demokrasi Wani Piro, Catatan Kecil Pojok Warung Kopi Ndeso

LeaderBoard_700x120

Demokrasi Wani Piro, catatan kecil pojok warung kopi ndeso. Oleh: Malika Dwi Ana, Pengamat Sosial Politik, Penggiat Institute Study Agama dan Civil Society.

Dalam teori konspirasi, antara politisi dan pengusaha bersimbiosis agar saling menguntungkan. Maka tak bisa dipungkiri high cost politik atau tingginya biaya politik masih menyuburkan praktek paternalistik antara politisi dengan pengusaha.

Bagaimana tidak, untuk menjadi pejabat publik perlu ongkos politik yang tidak bisa dibilang sedikit. Kalah menang tetep mahal biayanya. Wani Piro.

Sudah gitu hasilnya ya asal jadi aja, asal populer, karena parpol itu organisasi miskin aktor, sifat dan tabiatnya berkhianat. Ngajak orang ikut bela, ikut milih, tapi ketika menang AKURAMIKIR. Rakyat yang milih dikhianati, dan dilacurkan amanahnya.

Maafkan saya karena termasuk orang yang skeptis melihat kekuasaan digunakan untuk kebaikan rakyat. Bagi saya kekuasaan punya motivasi yang jelas yaitu uang. Dan sebaliknya hanya dengan uang seseorang benar-benar bisa berkuasa di abad modern ini.

Karena demokrasi liberal selalu memunculkan aktor yang tidak punya narasi visi misi yang jelas. Gak ada konteks dan tujuan ideal kecuali hanya retorika alias OMDO, alias nggedabrus. Ya gitu deh jika demokrasinya démokrasi judi, demokrasi Wani Piro.

Jadi, masih percaya istilah vox populi, vox dei?

Masih percaya bahwa pemerintahan (dari tingkat lurah/kades, camat, bupati/walikota, gubernur, hingga presiden) akan mengutamakan kepentingan rakyat daripada kepentingan pengusaha ?

LeaderBoard_700x120
Loading...

Baca Juga