oleh

Perayaan Satu Muharram Yang Mengharukan, Opini Geisz Chalifah

Perayaan Satu Muharram Yang Mengharukan. Oleh: Geisz Chalifah, Aktivis dan Budayawan Jakarta.

Sebagai anak yang terlahir dan besar di Jakarta saya tak pernah mengalami perayaan satu Muharram dirayakan besar-besaran seperti hari ini (31 Agustus 2019). Tahun baru Hijriyah 1441.

Dulu sekali hanya ada dua perayaan di Jakarta yaitu disebut Malam Muda Mudi menyambut ulang tahun Jakarta 22 Juni, dan satunya lagi malam tahun baru Masehi. Dua malam itu resmi diadakan oleh Pemrov DKI Jakarta.

Belakangan diakhir – akhir masa Presiden Soeharto, malam Idul Fitri diadakan acara di Monas berupa pemukulan bedug dll. Acara itu hanya beberapa kali saja dan kemudian tak pernah ada lagi.

Baca Juga :  Yudi: 4 Tahun Berkuasa, Jokowi Membawa Indonesia Menjadi Negara Gagal

Yang menarik adalah di malam tahun baru masehi. Setiap malam tahun baru tiba, beberapa tempat dibilangan Jakarta, salah satunya di Jakarta Timur diadakan Tabligh Akbar. Jadi tak hanya di Jalan sudirman Tamrin yang ramai oleh lalu lalang manusia dan panggung musik. Namun disebagian tempat lainnyapun diadakan perayaan malam tahun baru dengan mengadakan Tabligh Akbar.

Umat Islam tak pernah protes. Tak pernah mengatakan diskriminatif atas perlakuan pemerintah yang hanya mengadakan perayaan malam tahun baru Masehi namun sunyi sepi bila malam tahun baru Hijiriyah.

Puluhan tahun republik ini berdiri dinegara mayoritas muslim terbesar di dunia, tak pernah dirayakan malam tahun baru Hijriyah. Dan umat islam duduk manis menerima dengan apa adanya, kalaupun ada perayaan maka biasanya diadakan oleh inisiatif masyarakat sendiri, dikampung-kampung dijakarta dengan pawai obor atau tabligh akbar di beberapa tempat tapi tak pernah pemerintah (DKI) berinisiatif merayakan malam tahun barunya umat Islam.

Baca Juga :  Muhasabah Akhir Tahun, Banten Diangkat Derajatnya Oleh ALLAH SWT
Tahun berganti masa berganti, Anies terpilih menjadi Gubernur, dia hadir memberi keadilan pada semua. Dia mendatangi Milad FPI lalu juga hadir di ulang tahun Gereja Imanuel.

Semua kelompok dirangkul semua orang disapa, semua warga mendapat porsi yang sama. Rakyat kecil dilindungi, yang kuat diayomi agar semua taat pada aturan.

Tahun Baru Hijriah kali ini adalah fenomenal dan mengharukan. Seorang Gubernur berinisiatif memberi ruang pada umat Islam agar bisa merayakan tahun baru miliknya, mendapat kesempatan yang sama untuk bergembira.

Keadilan tidak hadir hanya lewat narasi dalam kampanye, tak hadir bila hanya berada dalam teks konstitusi yang dibacakan setiap upacara.
Keadilan hadir dalam kebijakan pemilik otoritas bila semua orang mendapat kesetaraan kesempatan.

Baca Juga :  Pengamat: APBD DKI Jakarta Era Anies Defisit

Wajah baru Jakarta, Jakarta untuk semua, Untuk semua lapisan, untuk semua golongan, untuk kamu juga untuk saya. Maju Kotanya bahagia warganya.

Loading...

Baca Juga