oleh

Miris, Ekonomi Dijunjung, Ibadah Dibendung. Opini Sulastri

Miris, Ekonomi Dijunjung, Ibadah Dibendung. Oleh: Sulastri, Komunitas Peduli Umat.

Jakarta, CNN Indonesia_Anggota Komisi Agama DPR RI John Kennedy Azis mengkritik pemerintah yang tidak konsisten dalam menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di tengah pandemi virus Corona (covid 19) ini.

John menyebutkan, sejumlah video di media sosial yang menayangkan pusat perbelanjaan atau mall disesaki pengunjung, sementara tempat ibadah tetap dibatasi.

700 Covid DF

Hal yang sama pun dikemukakan oleh Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonedia (SekJen MUI) Anwar Abbas yang mempersoalkan sikap pemerintah yang tetap melarang masyarakat berkumpul di masjid. Anwar mempertanyakan, mengapa pemerintah tidak tegas terhadap kerumunan orang yang terjadi di Bandara.

“Yang menjadi pertanyaan, mengapa pemerintah hanya tegas melarang orang untuk berkumpul di mesjid. Tapi, tidak tegas dan tidak keras dalam menghadapi orang-orang yang berkumpul di pasar, di mal-mal, di bandara, di kantor-kantor dan di tempat lainya. “kata Anwar Abbas dalam keterangan tertulis,minggu(17/5/2020)

Demikian halnya dengan para Ulama (MUI, PA 212, DA’I) mempertanyakan, ironi kebijakan pemerintah yang memihak kepentingan korporasi dan mengabaikan kepentingan rakyat serta menghambat kepentingan ibadah umat.

Kebijakan pemerintah yang memberlakukan PSBB sebagai salah satu cara untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19 ini, memang mengundang kontroversi di tengah masyarakat. Bagaimana tidak, pasalnya disatu sisi tegas membatasi, namun disisi yang lain justru melonggarkan. Untuk himbauan mengurangi aktivitas di mesjid begitu ketat dan masif di awasi, bahkan di beberapa daerah ada petugas dengan memakai pengeras suara mengingatkan untuk tidak berkumpul di mesjid, untuk tidak melaksanakan shalat jumat dan shalat tarawih karena berbahaya dan menghindari kerumunan. Namun, untuk tempat umum seperti mal-mal atau pasar dan bandara hal seperti ini tidak dilakukan. Padahal justru tempat-tempat umum inilah orang datang sampai berjubel, dan sangat rentan terjadi penularan virus.

Baca Juga :  Prabowo-Sandi Pasti Kalah Kalau Tidak Mendengarkan Relawan

Memang pemerintah telah menjunjung tinggi fatwa MUI yang menghimbau umat untuk beribadah di rumah. Namun hal ini juga seharusnya dilakukan di tempat-tempat umum lainya.

700 Covid DF

Ketidaktegasan pemerintah dalam hal ini bisa mengundang sikap “bandel” masyarakat yang tidak lagi mengindahakan segala himbauan yang dikeluarkan pemerintah. Pun ini sangat berakibat fatal, yaitu akan semakin merebaknya angka positif covid 19 di Indonesia.

Dilain pihak ada resiko besar ketika sejumlah pusat perbelanjaan kembali beroperasi dan membuat kerumunan warga, hal ini bisa membuat umat Islam terpantik untuk kembali beribadah ke Masjid. Ini seperti yang dipaparkan oleh Ustadz Abdul Somad “ketika pasar dibuka karena tuntutan ekonomi dan mesjid tetap ditutup karena dianggap tidak ada gerakan ekonomi, maka ketika umat Islam membalas dengan tetap ke madjid seperti ke Mall, ini bahaya. Karena ketika terjadi penularan mesjidlah yang akan menjadi kambing hitam. “katanya pada Republika.id

Baca Juga :  Diduga 4 Pegawai Kemenko PMK Jadi Tersangka Karena Ditipu Pemda Manggarai Barat

Memang sangat tidak bisa dipungkiri dalam masa pandemi seperti ini, perekonomian masyarakat sedang terpuruk. Namun, disinilah peran penting penguasa dalam meriayah mayarakatnya. Kurang tepat juga ketika berdalih berusaha membangkitkan ekonomi rakyat, namun dengan tidak memperhatikan keselamatan dan kesehatan masyarakat, alih alih malah justru tempat ibadah yang harus dibatasi, bahkan ditutup.

Inilah nasib rakyat yang hidup dibawah sistem kapitalis. Kebijakannya cenderung condong ke sektor ekonomi, meraup keuntungan nominal besar, tapi bukan untuk rakyat. Namun untuk segelintir orang dan para cukongnya.

Sudah saatnya ulama bersuara lantang dan bersatu untuk mengangkat aspirasi umat yang menjerit akibat kebijakan rezim. Jangan sampai peran ulama hanya dimanfaatkan sebagai stempel legalitas kebijakan penguasa saja, namun harus bangkit memberikan aspirasi lantang dan menegur kesalahan penguasa. Sebagaimana dalam Islam, ulama adalah sosok yang harus dihormati dan dimuliakan.perkataannya adalah nasihat yang seharusnya didengar karena ia adalah guru bagi para penguasa.

Baca Juga :  Sekjen GPI Himbau Prabowo Minta Maaf Soal Salah Sebut Gelar Nabi

Keberadaan ulama yang berada dibarisan terdepan dalam membina umat menjadi penerang dan penunjuk arah. Olehnya Rasulullah SAW mengibaratkan mereka laksana bintang dalam sabdanya: “Sesungguhnya perumpamaan ulama dimuka bumi laksana bintang bintang yang ada dilangityang menerangi gelapnya bumi dan laut.apabila hilang bintang gemintang itu hampir tersesatlah yang ditunjukinya itu” (HR Ahmad).

Demikianlah, Islam menjunjung tinggi keberadaan ulama. Selain karena sistem yang berasal dari Sang Khaliq, Islam pun melahirkan pemimpin-pemimpin yang peka terhadap penderitaan umatnya. Seperti khalifah Umar bin al-Khathab yang ketika terjadi musibah di negerinya. Ia tidak bisa memakan makanan yang enak ditengah penderitaan rakyatnya. Bahkan tidak bisa tidur nyenyak ditengah jeritan rakyatnya.

Islam akan menyelesaikan permasalahan dengan cepat dan tepat, tanpa mencla mencle. Karena nyawa dan keselamatan umat adalah hal dan prioritas yang utama. Pun untuk masalah ibadah lebih diperkuat lagi, umat diarahkan untuk lebih mendekatkan diri kepada Ilahi. Agar masyarakat dijauhkan dari wabah dan agar wabah segera berlalu. Wallahu A’alam Bisshawab

700 Covid DF
Loading...

Baca Juga