oleh

Menyikapi Polemik Kata “Manusia” Dalam Kasus Gus Muwafiq

Menyikapi Polemik Kata “Manusia” Dalam Kasus Gus Muwafiq. Oleh: Rahman Sugidiyanto,  Ketua Umum HMI UNJ.

Baru-baru ini viral pembahasan istilah “rembes” yang dilontarkan dai kondang asal Jawa Timur, K.H Ahmad Muwafiq. Beliau bilang nabi SAW itu rembes, nah kata-kata rembes ini yang dianggap sebagian orang kontroversi.

Gus Muwafiq tentulah haqqul yakin tidak ada maksud meremehkan Rasulullah SAW. Karena beliau adalah Nahdliyyin yang memang sangat diajarkan mencintai Rasulullah SAW. Masalahnya adalah Bahasa Indonesia yang hanya mengenal kata manusia tok.

Ali Syari’ati, Intelektual Iran membagi manusia menjadi tiga tingkatan kategori yaitu Basyar, Insan, dan Naas. Basyar itu sifat manusia berdasarkan jasmaninya misal manusia butuh makan, minum dan tak ubahnya seperti makhluk hidup lainnya, bisa sakit juga dan butuh tidur serta kebutuhan biologis lainnya.

Baca Juga :  Sebuah Novel Futuristik: Sutan The President

Insan adalah sifat manusia berdasarkan rohaninya atau bisa kita bilang asah spiritualiltasnya termasuk logika dan akal yang digunakan untuk berpikir. Manusia yang sempurna dapat seharusnya mencapai tingkatan ini.

Naas adalah tingkatan manusia dalam hubungannya sebagai makhluk sosial sebagaimana yang dikatakan zoon politicoon. Perbedaan manusia yang kedua adalah kemampuan manusia untuk bekerja sama mencapai tujuan.

Kalau mau lebih dalam bisa baca karya Yuval Noah Harari dalam Sapiens, ia menyebut kata manusia itu sebagai “Sapiens” yang artinya bijaksana. Harari menjelaskan manusia itu genus yang terdiri dari spesies-spesies diantaranya neanderthal, erectus, sapiens dll.

Jadi iqro lebih lanjut lagi budayakan diskusi jangan asal mencaci maki. Toh Nabi SAW pernah juga giginya patah ketika perang uhud. Tapi tidak mengurangi kemuliaaan beliau sebagai basyar. Justru itu menunjukkan kemuliaan beliau.

Baca Juga :  Cipayung Plus UNJ Ajak Mahasiswa Stop Rasisme Papua

Walaupun beliau sebenarnya bisa menang perang dengan menerima tawaran Jibril untuk membolak-balikkan lawannya. Tapi Nabi SAW menjawab dengan lembut bahwa nanti dari keturunan mereka lahir pejuang-pejuang Islam.

Jadi Nabi mengajarkan perjuangan kepada umatnya bukan cuma berdoa. Ia pun dalam perjuangannya berperang sebagaimana panglima besar perang lainnya, ikut terluka, menang-kalah secara bergantian walau diakhiri kemenangan futuh mekkah karena akhlak beliau.

Jadi Nabi SAW gak serta merta walau dia punya hak prerogatif untuk meminta mukjizat. Tapi dia gak mau umatnya seperti Bani Israil yang manja mengandalkan mukjizat nabinya.

Akhirnya daya juang mereka rendah malah menyepelekan nabi mereka sendiri. Nabi SAW ingin perjuangannya berjalan secara se-natural mungkin.

Baca Juga :  HMI UNJ Sikapi Polemik Aibon dan Pasir Milyaran di APBD Jakarta
Loading...

Baca Juga