oleh

Rezim Antitesa; Politik Kebencian Merobohkan Politik Kebangsaan

LeaderBoard_700x120

Rezim Antitesa; Politik Kebencian Merobohkan Politik Kebangsaan, catatan kecil pojok warung kopi ndeso. Oleh: Malika Dwi Ana, Pengamat Sosial Politik, Penggiat Institute Study Agama dan Civil Society.

Barangkali karena ketiadaan GBHN, maka dinamika politik kita seperti digiring pada platform yang hanya sekedar mencari antitesa atas sosok kepemimpinan sebelumnya, tanpa ada upaya progres kedepan yang mendasar serta upaya untuk mengurai benang kusut dan menyelesaikan secara komprehensif integral atas permasalahan utama bangsa ini. Mbuh, pokoknya antitesa, pokoknya berbeda dengan rezim sebelumnya. Begitu antipatinya sehingga yang baik-baik pun tidak dipakai sama sekali, salah satunya ya GBHN itu.

Antitesa Soekarno adalah Soeharto, antitesa SBY adalah Jokowi, antitesa Gus Dur ya…anu kali. Entah nanti antitesa Jokowi siapa? Inilah perilaku Rezim Antitesa sak karepe dewe, semaunya sendiri. Akibatnya, kekuatan modal entah kepentingan modal dari internal maupun eksternal (asing) seperti mendikte semaunya dinamika dan kegaduhan politik di negeri ini.

Permasalahan bertambah kompleks ketika era reformasi. Reformasi justru dibajak oleh segelintir elit agar konstitusi menjadi liberal. Ya… Liberalisasi dihampir segala bidang terutama pangan, energi dan hal-hal yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Pasal 33 UUD 1945 yang sedianya diperuntukkan untuk melindungi hajat hidup orang banyak, sudah lumpuh oleh amandemen 4x UUD 45.

Misalnya, selain tidak nyambung antara pembukaan dan batang tubuh, amandemen itu juga membidani berbagai UU yang pro kepentingan pemodal dan asing karena substansinya justru membawa kekayaan bangsa lari keluar. Inilah yang kini berlangsung secara terstruktur, masif disistem konstitusi kita.

Ada invasi senyap secara nonmiliter berjalan sistematis menyerang negara ini. Namun tampaknya mayoritas bangsa ini santai saja enjoy-enjoy saja. Tidak tahu akan situasi, atau abai, atau jangan-jangan pura-pura tidak tahu alias lugu? Iyo, lucu tur ngguaplek-i! Dan yang menyedihkan, banyak anak bangsa ini, banyak kelas menengah ngehe malah menikmati penjajahan gaya baru ini. Bahkan membela kekuatan luar yang tengah merampok kekayaaan Ibu Pertiwi sebagaimana fenomena…maaf, seperti bangsa yang terkena Stockholm Syndrome.

Itu sindrom kejiwaan korban perampokan dan perkosaan yang jatuh cinta pada pemerkosa dan perampoknya sendiri. Bukannya minta berhenti, malah minta diterusin. Membuat saya sulit untuk percaya tentang jargon NKRI harga mati, atau saya Indonesia, saya Pancasila. Lha wong berakhirnya kok menjadi Indonesia semau saya, Pancasila juga semaunya saya.

Rék kitu waé? Teu sieun paéh keur kikituan siah?

Sedang di hilir, dinamika ekonomi, politik dan sosial budaya (ekosob) terperangkap dalam gegap politik glamour. Tampak gemerlap, gempita serta mewah/mahal di atas permukaan tetapi tak menyentuh sama sekali pada Kepentingan Nasional RI (KENARI). Posisi rakyat masih dan akan terus dihadapkan pada realitas ekosob yang kian mengenaskan.

Kebutuhan merangkak naik tak terkendali. Pajak meningkat, naiknya harga kebutuhan publik di satu sisi, sementara daya beli menurun di sisi lain. Harga BBM merayap secara senyap di malam sunyi, sedang subsidi dicabut, rupiah terus melemah. Devisa tergerus selain akibat seringnya intervensi BI guna menguatkan rupiah, juga impor lebih tinggi ketimbang ekspor. Hutang negara kian menggunung, lapangan kerja susah, aset-aset BUMN dilego dan lain-lain.

Hari ini, perjalanan bangsa dan negara ini seperti menuju ketidak-seimbangan “neraca palang negara”. Dimana antara harta negara di satu pihak dengan hutang negara di pihak lain sudah njomplang ke neraca hutang.

Saya jadi teringat Bapak saya pernah bercerita tentang sifat setan. Ya, sifat setan itu ada empat yaitu malas, suka berangan-angan, banyak alasan dan akhirnya marah. Malas itu berharap hidup enak, ingin dipuja-puja sana-sini karena pencitraan namun dengan mengandalin hutang. Bermental shortcut.

Menekan rakyat dengan berbagai kebijakan. Setelah itu, berangan-angan ingin dua periode namun kinerjanya justru membebani bangsa dan menggerus aset kekayaan negara. Tetapi, jika diungkap kesulitan-kesulitan dan permasalahan bangsa selalu beralasan dan berdalih bahwa hal itu akibat kiprah rezim terdahulu. Efek kebijakan masa lalu, pointing finger nyalahin rezim masa lalu.

Padahal orang sukses itu mencari cara. Sedang orang yang gagal akan mencari berbagai alasan. Hal ini berlaku untuk pemimpin juga; pemimpin sukses tidak akan membawa-bawa kesalahan pemimpin terdahulunya. Ia akan mencari cara agar tidak jatuh dalam blunder kesalahan yang sama dan lalu mencari cara memperbaikinya, mengajukan comprehensive solution, sehingga tidak terkesan cuma pointing finger.

Karena tak akan ada selesainya jika mengungkit-ungkit kesalahan masa lalu tanpa berusaha memperbaikinya. Jika ada pemimpin selalu mencari-cari alasan ini itu, maka bersiaplah berjabat tangan dengan kegagalan.

Pemimpin yang tidak memiliki prestasi biasanya akan sering melakukan ‘pengakuan’ bahwa dia berprestasi, dan pemimpin yang sebelumnya itu nol kerjanya, gak ada prestasinya. Klaim dimainkan. Ujung-ujungnya, ketika segala macam dalih dan klaim dirasa mentah di depan publik, jurus terakhir yang dikeluarkan adalah marah. Lalu, menantang berkelahi para pengkritiknya.

Maka 3-L merupakan jurus pamungkasnya: “Lanjutkan! Lawan! Libas!”

LeaderBoard_700x120
Loading...

Baca Juga