oleh

NU, Role Model Pergerakan Islam Rahmatan lil Alamin (Habis)

NU, Role Model Pergerakan Islam Rahmatan lil Alamin, Bagian keempat dari empat tulisan (Habis). Oleh: Tubagus Soleh, Ketum Babad Banten Nasional.

Dalam akhir tulisan ini, saya menawarkan NU sebagai role model pergerakan Islam masa depan. Mengapa NU ? Saya mencatat NU memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh ormas sejenis yang sama2 berumur (menjelang) satu abad.

Pertama, NU terlahir sebagai Ormas, wadah para Ulama yang mempertahankan identitas diri sebagai pemegang teguh Ideologi Aswaja. Dan menegaskan diri sebagai pewaris serta penerus perjuangan dakwah para walisongo di tatar jawa dan nusantara.

Kedua, NU pernah menjadi Partai Politik dan menjadi bagian dari rezim NASAKOM era Soekarno. Keterlibatan ini menjadikan NU memiliki pengalaman politik kelas tinggi yang tidak dimiliki oleh ormas sejenis. Pergulatan didalam pemerintahan yang konon didominasi oleh komunis saat itu ternyata keberadaan NU justru menjadi pintu penghalang yang serius bagi kaum komunis dalam melancarkan aksi politik sepihaknya. Kader kader NU seperti M Subhan menjadi motor pelawanan terhadap komunis bersama dengan kekuatan rakyat dan mahasiswa seperti HMI, PII, GP Ansor dan lain lain.

Ketiga, pasca runtuhnya Rezim Orla dan Tegaknya rezim Orba di bawah Pemerintahan Jenderal Soeharto, Keterlibatan NU dalam politik masih berlanjut yang difusi dalam partai persatuan pembangunan (PPP). Dimasa ini kemudian NU dalam muktamar situbondo tahun 1984 kembali kepada khittah dan tidak lagi sebagai partai politik atau menjadi bagian parpol tertentu. Sejak keputusan kembali ke khittah,NU menjalankan politik bebas aktif. Peran-peran NU sangat menonjol dalam pergulatan rezim orba yang despotik.

Baca Juga :  Rezim Antitesa dan Orba, Sebuah Catatan Kecil Pojok Warung Kopi
Meskipun terpinggirkan secara kekuasaan namun daya tawar NU semakin mahal. Rezim Soeharto harus sowan ke para petinggi NU dan Kyai khos atau kyai Langitan untuk mengamankan kebijakan kebijakan yang strategis. Misalnya keputusan rezim yang memberlakukan Pancasila sebagai satu satunya azas tunggu untuk parpol dan ormas. NU merupakan role model ormas pertama yang menerima keputusan tersebut.

Keempat, NU menjadi pengayom bagi kaum lemah dan minoritas. Bagi yang berotak sumbu pendek, sikap NU ini sangat aneh. Bahkan menjadi bahan ejekan. Tapi bila kita renungi secara mendalam, sikap ini lahir dari kesadaran Rahmah yang sejak dari pesantren ditanamkan. Sebagaimana sudah saya tegaskan di nomor satu tulisan ini. Bahwa NU menegaskan diri sebagai pewaris dan pelanjut dakwah walisongo yang penuh kesantunan, beradab dan adab asor. Siapapun merasa aman dan nyaman masuk ke rumah besar NU.

Kelima, sebagai penganut pemegang dan pengamal Aswaja, NU memiliki sikap fleksibilitas yang tinggi. Mampu beradaptasi dalam situasi bagaimanapun juga. Pendekatan dakwah NU bukan menghakimi, menghujat apalagi memfitnah. Pendekatan dakwah NU mengajak, merangkul dan mengakui eksistensi orang. Seperti yang pernah dilakukan oleh Gusdur dengan mengakui konghucu sebagai agama resmi dan tahun baru imlek sebagai hari libur nasional. Sikap Gusdur yang sangat inklusif ini merupakan sikap negarawan sejati yang tidak melihat perbedaan agama dan budaya merupakan ancaman distegrasi bangsa. Tapi merupakan kekuatan yang saling mengokohkan.

Baca Juga :  Jika Terjadi Chaos Sebelum Pilpres Yang Membahayakan Kemanusiaan, Pilpres Bisa di Evaluasi.

Keenam, NU mampu berdialog dengan semua kelompok. Bahkan dengan kaum yahudi zionis israel pun, kader-kader NU mampu berdialog dan selalu mendapat apresiasi dunia yang sangat luar biasa. Sikap Politik NU yang selalu siap berdialog satu meja dengan “musuh umat islam” zionis israel merupakan sikap berani yang luar biasa. Kader-kader NU membuktikan kepada dunia, bahwa kaum pesantren yang selalu dipandang nyinyir ternyata lebih siap mental dan pemikirannya dalam berdialog dan bergulat dalam kancah dunia. Pergulatan pemikiran dunia hanya bisa dilakukan oleh manusia manusia pemberani dan ikhlas saja. Manusia-manusia yang didadanya memiliki rahmah yang bisa diberikan kepada sesama.

Ketujuh, perlahan namun mantap, NU sebagai jam’iyah sekarang sedang melakukan pembenahan serius. Pengkaderan disetiap jenjang organisasi gencar dilakukan. Banon NU yang terkenal yaitu GP Ansor dengan tekun melakukan kaderisasi dari kampung ke kampung secara rutin dan dalam jumlah yang besar. Begitu juga dengan Banon NU lainnya. Disisi lain, pesantren yang menisbatkan diri dengan gerakan NU juga melakukan pembaharuan yang serius. Pondok pesantren terus-menerus melakukan pembenahan dan cenderung semakin militan izzah ke NU annya.

Hal ini akan mendorong proses mobilitas vertikal kaum nahdiyyin dari “kampung” ke “kota”. Dengan bekal keilmuan agama yang mumpuni gemblengan pesantren, kader-kader NU muda akan semakin meramaikan dinamikan sosial politik bangsa kedepan. Saya percaya dan yakin NU akan menjadi “Penguasa” Indonesia di masa depan.

Kedelapan, saat ini NU telah merambah kekancah dunia secara organisasi. Bahkan di Afganistan, NU telah menjelma menjadi organisasi pribumi. Dan secara perlahan, NU telah menjadi Madrasah Aswaja Dunia. Siapapun yang ingin belajar Islam damai dan toleran rujukannya pasti NU.

Baca Juga :  Jadilah Tong Kosong Biar Enak Diisinya

Kesembilan, NU sebagai perekat bangsa Indonesia. Sebagai organisasi yang menegaskan pewaris dan pelanjut perjuangan Walisongo, tugas NU adalah menjaga tanah air Ibu Pertiwi agar tetap subur makmur dengan ragam budaya yang harmoni sebagaimana yang telah ditegaskan dalam pembukaan UUD 1945.

Jadi, dalam bagian akhir tulisan saya ini, tidak berlebihan bila saya menawarkan Role model NU. Sebagai bentuk model perjuangan umat Islam Indonesia dalam mewujudkan Indonesia yang baldatun thoyyibatun wa robbun gofur.

Loading...

Baca Juga